Catatan Tangan Kanan Wiedmust
Hari ini umat Islam memperingati 1 Muharram 1448 Hijriah. Spanduk terpasang, pawai obor digelar, ceramah berlangsung di berbagai tempat. Media sosial pun ramai mengucapkan, “Selamat Tahun Baru Islam.”
Namun besok pagi, sebagian besar dari kita kembali membuka ponsel dan melihat tanggal… Masehi.
Tidak ada yang salah dengan itu. Dunia modern memang berjalan dengan kalender Masehi. Jadwal sekolah, rapat kantor, penerbangan, transaksi perbankan, hingga tenggat pembayaran cicilan semuanya menggunakan sistem tersebut. Bahkan di negara-negara mayoritas Muslim, kalender Masehi lebih sering menjadi rujukan utama dalam kehidupan sehari-hari.


Ironisnya, banyak dari kita hafal tanggal 1 Januari, tetapi harus berpikir keras ketika ditanya sekarang bulan Hijriah apa.
Kalender Hijriah akhirnya lebih sering menjadi tamu kehormatan daripada penghuni rumah. Datang setahun sekali, disambut meriah, lalu menghilang dari percakapan sehari-hari.
Padahal kalender Hijriah lahir dari peristiwa hijrah, sebuah momentum perubahan besar dalam sejarah Islam. Semangatnya bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan keberanian untuk berubah, membangun peradaban, dan menghadapi tantangan zaman.
Sayangnya, sebagian peringatan Tahun Baru Islam justru lebih sibuk menghitung jumlah peserta pawai daripada menghitung sejauh mana semangat hijrah telah diterapkan.
Kita hidup di zaman yang unik. Generasi muda bisa mengetahui jadwal konser di belahan dunia lain dalam hitungan detik, tetapi sering tidak tahu kapan masuk bulan Muharram. Mereka hafal tanggal peluncuran gawai terbaru, tetapi bingung membedakan Muharram dengan Safar.
Tentu ini bukan kesalahan generasi muda semata. Mereka tumbuh dalam ekosistem yang hampir seluruhnya menggunakan kalender Masehi. Jika sekolah, kantor, aplikasi digital, media massa, dan administrasi publik menggunakan satu sistem kalender, wajar jika sistem itulah yang paling akrab dalam kehidupan mereka.
Pertanyaannya, apakah Tahun Baru Islam hanya akan menjadi ritual tahunan yang penuh seremoni tetapi miskin makna?
Kalau jawabannya iya, jangan heran jika suatu saat anak-anak lebih antusias menghitung mundur malam tahun baru daripada memahami makna hijrah. Bukan karena mereka anti-Islam, tetapi karena yang satu hadir dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan yang lain hanya datang sebagai acara tahunan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sekadar memperingati dan mulai menjelaskan. Berhenti hanya memasang baliho, lalu mulai menghubungkan nilai hijrah dengan realitas zaman digital.
Sebab esensi hijrah sebenarnya sangat relevan hari ini: berpindah dari malas menjadi produktif, dari konsumsi informasi menjadi pencipta pengetahuan, dari sekadar pengguna teknologi menjadi penggerak perubahan.
Di era digital ini, aplikasi ponsel mampu mengingatkan kita kapan flash sale dimulai, kapan paket data habis, bahkan kapan mantan ulang tahun. Tetapi untuk mengetahui bahwa hari ini 1 Muharram, sebagian dari kita masih harus menunggu pengumuman dari grup WhatsApp keluarga.
Mungkin tantangan terbesar kalender Hijriah hari ini bukan bersaing dengan kalender Masehi. Tantangannya adalah bersaing dengan notifikasi media sosial yang datang setiap lima menit.
Kita sering khawatir generasi muda melupakan sejarah Islam. Padahal yang lebih dulu melupakan kalender Islam justru orang-orang dewasa yang setiap hari menulis tanggal Masehi di surat, laporan, proposal, dan undangan.
Kalender Hijriah mungkin tidak lagi mengatur jadwal rapat internasional atau transaksi bursa saham dunia. Namun ia tetap penting sebagai penanda sejarah, identitas, dan nilai-nilai peradaban Islam.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Dan jangan lupa sesekali melihat tanggal Hijriah di ponsel. Kalau perlu, cari dulu di mana letak fiturnya. Sebab bagi sebagian orang, menemukannya ternyata lebih sulit daripada menemukan diskon saat tanggal kembar.***




















































































































































