Babak Baru Perjalanan NW

Nahdlatun Wathan atau NW sebagai Ormas Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat kini memasuki babak baru. Setidaknya pasca perdamaian yang dilakukan pemimpin spiritual atau petinggi Ormas tersebut yang difasilitasi Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia di Jakarta pada 23 Maret 2021 lalu.

Selama ini perseteruan antara Petinggi Nahdlatul Wathan pasca meninggalnya sang Pendiri yakni Maulana Syeikh TGH Muhammad Zainuddin Abdul Majid seperti tak berkesudahan pasca Muktamar NW di Praya Lombok Tengah tahun 1998. NW terbelah menjadi dua, NW Pancor dan NW Anjani Lombok Timur. Perseteruan antara kedua kubu bahkan sudah multidimensi, tidak saja dalam ranah  keagamaan tetapi juga memasuki ranah sosial budaya dan politik. Bahkan, perseteruan di tingkat akar rumput atau jamaah NW itu tak bisa dihindarkan, telah menyebabkan korban jiwa raga dan harta benda sebagaimana peristiwa kelam beberapa waktu silam.

Bila Jerman Barat dan Jerman Timur bisa bersatu karena runtuhnya Tembok Berlin, maka perseteruan Kubu NW Pancor dan NW Anjani tak ubahnya seperti konflik berkepanjangan Korea Selatan dan Korea Utara yang sesungguhnya berasal dari satu nenek moyang, keturunan yang sama sebagai Bangsa Korea yang sulit disatukan dan menempuh jalannya sendiri-sendiri sebagai bangsa berdaulat.

BACA JUGA:  Potensi Hujan di NTB Pada Awal Musim Hujan 2021/2022             

Maka, ketika sebuah ikhtiar diwujudkan oleh cucu-cucu Pendiri Nahdlatul Wathan yakni Tuan Guru Bajang (TGB) DR H Muhammad Zainul Majdi MA dari Kubu NW Pancor dan Raden Tuan Guru Bajang (RTGB) Zainuddin Tsani dari Kubu NW Anjani, bersepakat melakukan rekonsiliasi atau genjatan konflik, kaum Nahdiyin dan Nahdiyat, panggilan khas Jammah NW ini menyambutnya gembira penuh suka cita. Laman media sosial pun dipenuhi dengan ucapan selamat untuk upaya damai yang dilakukan kedua pemimpin spiritual NW tersebut. Bahkan euphoria ‘NW Islah, NW Bersatu’  sempat viral menjadi trending topic atau perbincangan utama kaum netizen di Nusa Tenggara Barat bahkan mereka di luar daerah dan mancanegara yang mengaku sebagai jamaah maupun simpatisan NW.

Pendiri NW, NWDI, NBDI, Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, satu-satunya Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat. I foto : Istimewa

Bila mencermati isi perjanjian damai yang dilakukan kedua kubu NW sebagaimana dicatat pihak Dirjen AHU Kemenkum HAM Republik Indonesia. Maka tepatlah, apa yang dikatakan Pakar Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram DR H Kadri M Shaleh yang menyebutkan bahwa secara organisasi, Pengurus Nahdlatul Wathan tidak Islah, karena keduanya memiliki organisasi yang berbeda. Yang satu menggunakan nama NW dan yang satu lagi memakai nama NWDI. Mereka islah secara psikologis dengan menjadikan perjuangan yang telah dilakukan oleh Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di bidang pendidikan, dakwah dan sosial sebagai pengikat psikologis.

BACA JUGA:  Tangguh dan Tumbuh

Mengutip pernyataan DR Kadri, Pimpinan NW dan NWDI sepakat untuk meneruskan perjuangan Maulana Syaikh meskipun mereka menggunakan payung kelembagaan yang berbeda nama. Warisan nilai perjuangan Maulana Syaikh telah menjadi magnet pemersatu bagi para cucu-cucunya, apalagi dalam kesepakatan mereka secara jelas mengatakan bahwa mereka akan selalu menjaga hubungan baik, saling menghormati, dan bekerjasama dalam meneruskan perjuangan Sang Kakek. Jadi untuk bersatu secara organisasi memang tidak karena mereka memilih untuk berbeda nama dan kepengurusan, tetapi bersatu secara psikologis dan ideologi perjuangan.

Upaya damai yang ditempuh dua kubu NW itu layak diapresiasi. Ada kesungguhan yang sangat dalam ingin ditunjukkan Tuan Guru Bajang DR HM Zainul Majdi MA dan Raden Tuan Guru Bajang (RTGB) Zainuddin Tsani untuk mewujudkan kebaikan dan tujuan mulia. Dari attitude mereka, jelas RTGB dan TGB tak ingin masalah ini berlarut-larut. Keduanya sangat berhati baik dan berbuat baik.

BACA JUGA:  Tingkat Pengangguran di NTB     

Ikatan emosional dan ideologis dalam melanjutkan perjuangan Maulana Syaikh adalah hal yang mendasar dan jauh lebih kuat dalam menjaga kebersamaan. Kekuatan ikatan ini tidak akan mudah dipisahkan atau diganggu oleh siapa pun, dan tidak akan luntur walau mereka berada pada bus atau mobil yang berbeda nama. Bagaimanapun juga, publik  semakin mafhum bahwa pertemuan kedua belah pihak yang difasilitasi Pemerintah sesungguhnya ingin mentauhidkan teori bahwa NW memang sudah terbelah menjadi dua.  Meski demikian, pasca pertemuan kedua belah pihak, TGB selalu menyatakan bahwa NW dan NWDI akan selalu bergandengan tangan saling membantu satu sama lain untuk mewujudkan cita-cita mulia sang Pendiri Nahdhatul Wathan bagi tetap tegaknya iman dan taqwa. Semoga! (Tim Weekend Editorial)