Refleksi 33 Tahun “Tuan Kondektur” Ayub Hamzah Fahreza

Lakon "Tuan Kondektur, 1992" (arsip LHI)

Catatan Agus K Saputra

Bagi Ayub Hamzah Fahreza, pemuda asal Medan yang menautkan hidupnya dengan dunia teater sejak awal 1990-an, salah satu momen itu bernama Tuan Kondektur — lakon yang ia garap sekaligus sutradarai pada tahun 1992.

Dalam perjalanan teater Indonesia yang panjang dan penuh dinamika, nama Ayub mungkin tidak sepopuler sutradara-sutradara besar di pusat-pusat kebudayaan negeri ini. Namun, di balik ketenangan wajah dan kerendahan hatinya, tersimpan satu hal yang jarang dimiliki banyak orang: dedikasi dan integritas yang tak pernah padam.

Seperti kata R. Eko Wahono, “Seorang Ayub Hamzah Fahreza, pemuda dari Medan, penuh dedikasi dan integritasnya dalam menjalani satu bentuk hidup di dalam teater. Ia coba mengkloning pikiran-pikiran yang menjadi wacana dalam setiap diskusi teater saat itu. Sehingga saya mendukung penuh ketika ia menggarap sekaligus menyutradarai lakon Tuan Kondektur (1992).”

Kata “mengkloning” dalam kalimat Eko bukan sekadar metafora biologis. Ia menunjuk pada bagaimana seorang Ayub menyerap gagasan, membiakkannya dalam dirinya sendiri, lalu melahirkannya kembali dalam bentuk baru. Teater baginya bukan tempat meniru, melainkan ruang untuk menumbuhkan. Bukan panggung untuk tampil, tetapi arena untuk belajar tentang kehidupan.

“Bagi saya, Tuan Kondektur bukan hanya peristiwa seni, tapi latihan memahami bagaimana kesadaran bekerja: tentang kerja sama, ego, dan kerendahan hati di antara manusia,” ujar Ayub.

Pernyataan itu terdengar sederhana, namun menyimpan kedalaman. Teater memang kerap dipahami sebagai ruang representasi — tempat orang memainkan peran, menafsirkan naskah, dan menghibur penonton. Namun bagi Ayub, panggung bukanlah tempat berpura-pura, melainkan tempat mengasah diri. Ia menjadikan teater sebagai cara hidup, bukan sekadar kegiatan atau profesi.

Ketika ia menyebut teater sebagai “latihan memahami kesadaran”, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang pengalaman eksistensial yang melampaui seni pertunjukan. Di sana, setiap latihan adalah percakapan dengan diri sendiri; setiap naskah adalah cermin yang memantulkan ego dan kerendahan hati.

Teater baginya bukan hanya pertunjukan, melainkan proses penyadaran — tentang bagaimana manusia belajar mendengarkan, menerima, dan bekerja bersama.

Dalam ruang latihan yang sederhana, di antara keringat, tawa, dan pertengkaran kecil, Ayub menemukan bentuk kejujuran yang jarang muncul di ruang-ruang formal. Di situ, semua orang sama: tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa topeng sosial. Teater adalah ruang egaliter yang memungkinkan manusia menjadi manusia seutuhnya.

BACA JUGA:  Pertunjukan Wayang Sasak di Korea Dapat Sambutan Hangat dari Publik Internasional

Tuan Kondektur: Sebuah Peristiwa Kesadaran

Lakon Tuan Kondektur pada tahun 1992 mungkin kini hanya tinggal ingatan kabur bagi sebagian orang. Tapi bagi mereka yang terlibat, peristiwa itu seperti api kecil yang menyalakan kesadaran baru. Ayub menyebutnya sebagai “fondasi penting dalam perjalanan memahami hidup.”

Menarik bahwa ia tidak menyebutnya sebagai “pengalaman berkesenian”, melainkan “pengalaman memahami hidup.” Di sini, batas antara seni dan kehidupan menjadi kabur. Teater tidak lagi berdiri di luar diri, melainkan tumbuh di dalamnya.

Eko, yang kala itu menjadi salah satu penggerak diskusi teater di daerahnya, melihat dengan jelas bagaimana Tuan Kondektur menjadi ruang eksplorasi bagi generasi muda yang berani mencoba hal baru. Ia mendukung penuh Ayub bukan semata karena kemampuan teknisnya sebagai sutradara, tetapi karena semangat keberaniannya: berani salah, berani mencoba, berani menafsirkan dunia dengan caranya sendiri.

Mungkin itulah yang dimaksud Ayub ketika ia menyebut masa itu sebagai “masa yang lucu, penuh keberanian yang naif.” Sebuah masa di mana segala sesuatu terasa mungkin, dan setiap kesalahan justru menjadi bagian dari pembelajaran.

Teater, dalam konteks itu, adalah ruang yang memanusiakan manusia. Ia mengajarkan keberanian bukan melalui doktrin, tetapi melalui pengalaman. Ia menumbuhkan kebijaksanaan bukan lewat teori, melainkan lewat perjumpaan antar manusia.

“Pengalaman itu sungguh menjadi fondasi penting dalam perjalanan saya memahami hidup — bagaimana setiap proses kreatif sebenarnya adalah proses pembentukan kesadaran,” kata Ayub.

Dalam satu kalimat ini, kita dapat menangkap seluruh filsafat hidup seorang teaterawan sejati. Ia tidak berbicara tentang kesuksesan atau pengakuan, melainkan tentang proses. Di dunia teater, proses adalah segalanya.

Proses adalah tempat manusia diuji — bagaimana ia mengelola ego, bagaimana ia mendengarkan orang lain, bagaimana ia bertahan dalam ketidakpastian. Dalam latihan yang melelahkan dan kadang membosankan itu, kesadaran perlahan terbentuk.

Bagi Ayub, proses kreatif bukan sekadar jalan menuju pertunjukan, melainkan perjalanan batin menuju pemahaman diri. Ia belajar bahwa kesenian yang sejati tak pernah berjarak dari kehidupan. Justru di sanalah ia menemukan makna terdalam dari menjadi manusia: belajar untuk rendah hati, untuk mendengarkan, dan untuk menerima bahwa karya besar hanya lahir dari kerja sama.

BACA JUGA:  Viral di Media Sosial, Tarian Erotis Buat Sesak Udara Lombok

Barangkali inilah yang sering dilupakan oleh banyak generasi muda hari ini — bahwa teater tidak hanya soal estetika, tetapi juga etika. Bahwa kerja seni bukan hanya tentang mencipta bentuk, tetapi juga membentuk kesadaran.

Kenangan, Tawa, dan Keberanian yang Naif

“Ya, teringat masa itu. Masa yang lucu, penuh keberanian yang naif, namun justru di sanalah saya mulai belajar memberanikan diri untuk berkarya. Dan itu sudah lama sekali… seperti potongan-potongan puzzle yang tak lengkap lagi. Beberapa adegan masih teringat — terutama saat Hery datang mengamen… wkwkwk.”

Kalimat ini terdengar ringan, tapi di dalamnya terkandung nostalgia yang hangat. Ia menandai jarak antara masa muda yang penuh semangat dengan masa kini yang telah matang. Namun, di tengah kelucuan dan kenangan itu, tersisa sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa keberanian yang naif justru sering menjadi sumber lahirnya kreativitas sejati.

Mungkin karena di masa itu, mereka berkarya bukan untuk mendapat pengakuan, melainkan untuk mencari arti. Mereka tidak takut salah, karena kesalahan dianggap bagian dari pertumbuhan.

Kita bisa membayangkan sekelompok anak muda di awal 90-an, berlatih di ruang sempit, dengan peralatan seadanya. Tidak ada teknologi canggih, tidak ada dana besar. Yang mereka punya hanyalah semangat dan kebersamaan. Tapi justru dari keterbatasan itulah, muncul bentuk-bentuk ekspresi yang jujur dan otentik.

Adegan Hery datang mengamen mungkin tampak sepele, tapi bagi mereka itu adalah bagian dari sejarah kecil yang membentuk ikatan emosional tak tergantikan. Di sanalah, tawa dan kesungguhan berbaur menjadi satu.

“Waktu terus berjalan, tubuh menua, tapi mungkin neuron-neuron yang dulu terbentuk dari proses itu masih menyala. Terima kasih sudah menyalakan api kesadaran itu sejak dulu, Mas Eko,” tutup Ayub.

Ungkapan ini adalah bentuk penghormatan yang tulus. Ia mengakui bahwa setiap peristiwa kecil di masa lalu meninggalkan jejak dalam tubuh dan kesadaran. Proses latihan, perdebatan, bahkan rasa frustrasi kala pentas — semuanya menyatu membentuk jaringan neuron yang tetap hidup hingga kini.

Dalam pandangan neuro-estetik modern, pernyataan Ayub itu sangat menarik. Otak manusia memang menyimpan ingatan bukan sebagai potongan gambar, melainkan sebagai jaringan asosiasi pengalaman. Artinya, pengalaman teater masa lalu benar-benar bisa “menyala” kembali ketika seseorang mengingatnya.

BACA JUGA:  NTB Boyong banyak Juara pada IKADI 2023

Bagi Ayub, teater bukan sekadar kenangan, melainkan sesuatu yang masih hidup di dalam dirinya. Ia mungkin tidak lagi berdiri di panggung setiap hari, namun api kecil itu tetap membara di kedalaman kesadarannya — sebagai energi yang membimbing langkah hidupnya.

Eko dan Relasi Perkawanan

Tak bisa dipisahkan dari perjalanan Ayub “ada” sosok Eko Wahono. Jika ada narasi teater, nama Eko bisa jadi muncul sebagai pemantik diskusi, bukan sekadar sutradara atau pengamat. Ia adalah sosok yang menanamkan nilai-nilai etis dan filosofis dalam praktik teater, saat itu.

Dukungan Eko terhadap Ayub bukanlah bentuk patronase, melainkan pengakuan terhadap semangat belajar. Ia melihat bahwa di tubuh muda Ayub, ada hasrat untuk memahami, bukan hanya untuk tampil.

Dalam banyak hal, hubungan keduanya mempresentasikan relasi perkawanan yang kental dalam pengertian yang paling sejati: bukan relasi vertikal, tetapi dialog kesadaran. Eko menyalakan api, dan Ayub menjaga nyalanya agar tak padam.

Tiga puluh tiga tahun kemudian, keduanya masih terhubung — bukan oleh panggung, melainkan oleh kesadaran yang sama: bahwa teater adalah cara untuk memahami kehidupan, bukan sekadar alat untuk memproduksi tontonan.

Tiga puluh tiga tahun berlalu, dan dunia telah berubah. Namun, nilai-nilai yang tumbuh dari proses teater itu tetap relevan: kerja sama, kejujuran, keberanian, dan kerendahan hati.


Dalam refleksi Ayub, kita menemukan bahwa teater sesungguhnya adalah latihan spiritual yang halus. Ia melatih tubuh dan pikiran untuk hadir sepenuhnya, melatih ego agar tidak menelan kesadaran kolektif, dan melatih manusia untuk terus belajar dari orang lain.

Mungkin benar bahwa tubuh menua, namun “neuron-neuron kesadaran” itu tetap menyala. Mereka menjadi bagian dari diri yang tak pernah mati — karena setiap proses teater sejatinya adalah proses menjadi manusia yang utuh.

Dan dari sanalah, Tuan Kondektur tidak hanya menjadi peristiwa seni tahun 1992, melainkan menjadi simbol kecil dari perjalanan besar kesadaran manusia. Sebuah tanda bahwa teater, betapapun sederhana bentuknya, selalu punya daya untuk menyalakan api yang tak akan padam.

#Akuair-Ampenan, 19-10-2025