MATARAMRADIO.COM – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal menekankan pentingnya peran perempuan sebagai tiang penyangga peradaban dan ketahanan keluarga.
“Secara fisik laki-laki mungkin lebih kuat, tetapi secara psikis, perempuan jauh lebih kuat. Ibu-ibu adalah sumber keteduhan bagi suami, anak-anak, bahkan bagi peradaban kita,” katanya saat Pelantikan Pimpinan. Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) se-NTB di Mataram, Minggu 5 Mei 2026.
Gubernur juga menyoroti dinamika hubungan suami-istri melalui perspektif spiritual.
Ia menyebut, dalam konsep keluarga, laki-lakilah yang sesungguhnya mencari ketenangan dan keteduhan dari sosok perempuan.
Gubernur mengkhawatirkan adanya degradasi nilai keluarga yang memicu berbagai persoalan sosial di NTB, mulai dari pernikahan usia dini hingga peredaran narkoba.
Ia berkaca pada kampanye “Back to Family Value” yang pernah dibawa Barack Obama, sebagai bukti bahwa negara maju sekalipun akan kembali mencari kekuatan pada unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.
”Penjaga kedaulatan kita bukan hanya aparat, tetapi Muslimat NU adalah garda terdepan penjaga nilai-nilai keluarga. Jika Muslimat NU bergerak menjaga pondasi ini, maka separuh dari persoalan sosial di NTB insya Allah akan terselesaikan,” jelasnya.
Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi pengabdian Muslimat NU selama delapan dekade.
Ia menekankan dengan tema Harlah ke-80, “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban,” bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan (roadmap) bagi organisasi.


”Muslimat NU harus terus menjadi penyejuk di tengah masyarakat. Kemandirian ekonomi dan penguatan tradisi aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) adalah benteng utama kita menghadapi gempuran budaya luar,” ujarnya.
Terkait ketahanan keluarga, jelas Khofifah merupakan pilar utama menuju Indonesia Emas.
Ia mengingatkan para kader Muslimat NU bahwa tantangan hari ini masuk langsung ke kamar-kamar rumah melalui gadget, sehingga peran pengawasan ibu menjadi sangat vital.
”Keluarga adalah benteng pertama. Jika benteng ini rapuh, maka pertahanan bangsa juga akan goyah. Muslimat NU harus hadir untuk memastikan tradisi luhur tetap terjaga namun tetap mandiri secara ekonomi agar keluarga semakin berdaya,” tuturnya.
Khofifah juga mengingatkan pentingnya adaptasi digital bagi para kader Muslimat tanpa meninggalkan akar identitas sebagai santri. Menurutnya, kemandirian yang dimaksud mencakup kemandirian berpikir, perempuan dan perlindungan anak. bertindak, dan ekonomi, sehingga Muslimat NU mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah, khususnya di NTB. (diskominfotikntb/MRC)














































































































































