Sembalun Melawan

Jika tanganmu masih tergenggam ke udara
daun yang gugur di kepalamu
sentiasa menghina
betapa rendah harkat moyang
hinamu tak bermuara

ribuan waktu yang lalu
tersungkur moyangmu
mendayung sampan
menyusuri pantai
mendepa bukit
mendekap buasnya rimba
beribu-ribu mati dalam perjalanan
hingga akhirnya sampai di lidah Sembalun

rentang waktu mendatang
tak menepi tiada henti berseri
deritamu atas luka
keterjajahan terus melumat habis
hingga binasa di ladang keringat
nenek moyang yang menanam tulang
demi harga diri yang terhempas karam
kadang timbul terkadang tenggelam

harga diri itu, kini
diruncing binasa
maka lawan
lawanlah rasa takut itu
sebab bukan itu dirimu
bukan juga nenek moyang

berkalang darah di muka tanah dirampas
ialah warisan terbaik bagi kemiskinan
siapa tahu
di masa yang sudah tentu
seribu satu perlawanan akan tumbuh di situ

Sembalun itu tanahmu
seluruh senti dari tanah itu
ialah darah dari daging moyangmu
bertarung melawan tubuh yang abu
kengerian tak habis-habis di situ

siapa berani menjejak Sembalun
di masa lampau
dialah manusia bertaji itu
manusia yang hidup dalam kemiskinan
dan tak mau mati dalam kebinasaan yang sama

bernapas dalam lampanan keras
menghidu nasib yang ganas
menjemput menang yang entah
kapan tiba merdeka untuk pejuang

kaya
kuasa
jahat
menjelma seribu muka
tak habis-habis
kisahnya

karena kita
orang miskin
terlau menghamba
memberi peluang segenap ruang
kita binasa
tak habis-habis
warannya

maka meski pohon menjadi malam
karena matahari terus tenggelam
walau batu menjadi kelam
sebab mentari selalu terbenam
manusia itu
nenek moyangmu
teruskan langkah
memikul bahu
sebab kemiskinan mesti dihanguskan
agar kesengsaraan bukan masa depan

kekalahan biarlah masa lalu
masa nanti
pasti tepati janji
miskin terjajah wajib disudahi

maka dengarlah jerit nenek moyang
tanamkan saung juang itu di dadamu

siapa yang sampai di lidah Sembalun
bukan kakek nenekmu
melainkan pamanmu
sebab yang lain sudah mati di perjalanan
begitu kejam jalan itu
sampai nyawa mesti dilepaskan
karena sampai ialah keharusan
di lidah Sembalun yang menawan itu

bagi orang kalah
seperti kita ini
tidak banyak pilihan
hidup tertindas atau menyusun amuk

orang aniaya seperti kita
mesti memilih yang terbatas
miskin hidup
atau melawan walau kalah jua akhirnya

namun seribu perlawanan yang kalah itu
ialah kehormatan tertinggi mutu
dibandingkan tanah moyang habis dirampas
pada tangan kita yang lemah
di depan mata
ludah tak habis bertindih

bahkan sering tak ada pilihan
hanya lawan
melawan satu-satunya peluang
bagi kemiskinan tengik ini

miskin yang kalah itu biasa
namun miskin yang terjajah
sejati hina dina

jika tak mampu memiliki matahari
jangan biarkan dirimu terbakar
jika tak dapat mencumbu bulan
jangan biarkan dirimu kehilangan
jika tak bisa nikahi bintang
jangan biarkan dirimu dipandang binatang

ini Sembalun
dirakit oleh tangan yang tak pernah lelah
meski tak dapatkan istana marwah

perampas itu tahunya menang
maka sekali mesti dibikin malang

letak comberan itu di muka mereka
lalu lantang katakan

kaya
kuasa
jahanam
tinja itu harkatmu

ayo Sembalun
ini masamu
atau kehilangan abadi
benar-benar terjadi

jika tak punya nyali
jangan berlindung
buka dada
kepal tangan
lawan kenyataan
beratus tahun kenistaan

jika tak punya berani
jangan berlari
kencangkan otot
tancap kaki pada tanahmu sendiri

sebab hanya perlawanan
itu jalan mesti

Malaysia, 9 Januari 2022

BACA JUGA:  Fathurrahman Zakaria: Pelopor Jurnalisme dan Pejuang NU yang Terlupakan