Nangis Dalem Petani Mako (Elegi Kaum Miskin yang Tangguh)

Tulisan ini berdasarkan pengalaman hidup di tengah petani tembakau di Rensing Lombok Timur yang tak pernah habis-habisnya menyulam kerugian sekaligus keuntungan. Merakit tangisan sekaligus senyuman. Menenun kejayaan sekaligus keruntuhan. Namun jika dikalkulasi secara keseluruhan dari semua rentang nasib tersebut, sesungguhnya petani tembakau lebih banyak terjepit dibanding merasa longgar. Namun kenapa mereka tak henti-henti menggeluti dunia yang penuh ketidakpastian itu? Di situlah hebatnya.

Seumpama kaum maniak, meski sudah tahu hitam pekat jalan yang ditempuh, ia tak akan menghentikan langkah. Hanya saja, saya tidak akan mengulik melodramatik tersebut dalam tulisan ini. Saya akan coba melihat bagaimana hubungan pemerintah dengan petani tembakau? Adakah mereka memiliki hubungan yang kuat, jelas, terang benderang atau sekadar hidup segan mati tak mau? Dan siapa sebenarnya yang berkuasa di tengah hubungan yang suram muram antara petani tembakau dengan pemerintah tersebut?

Sejauh ini, pemerintah tidak memberikan kontribusi yang signifikan kepada petani tembakau (karena kita sedang membincangkan petani tembakau, saya tulis saja petani tembakau meski pada dasarnya kontribusi pemerintah pada kaum petani secara umum amatlah kecil). Argumentasi pernyataan ini dapat dilihat atau diukur dalam empat indikator. Sistem irigasi pertanian tembakau, teknologi pertanian tembakau, sistem pengovenan, dan harga jual tembakau.

Sebagai tanaman yang unik, tembakau memerlukan pendekatan khusus terutama hubungannya dengan air. Pada umur tertentu, tembakau sangat memerlukan air. Pada masa ini, jika tidak air, ia akan ngambek. Tumbuh menjadi tembakau yang tidak bermutu. Akan tetapi pada umur tertentu pula, ia sangat tidak memerlukan air. Bahkan air menjadi musuh utama. Jika pada masa ini air berlebihan, ia pun ngambek sejadi-jadinya. Memang tidak mati langsung namun jika berdaun, sungguh daun tersebut tidak berkualitas layak jual. Hanya banyak namun tidak berat. Hanya berat tetapi tidak berkualitas. Pada masa tertentu, tembakau sangat memerlukan matahari. Iya, hanya matahari yang ia perlukan. Pada masa ini, semakin panas matahari, hati tembakau makin bersemi dan memberikan kualitas tinggi.

Melihat hubungan tembakau dengan air yang secara periodik berlainan karakter, maka diperlukan sistem irigasi yang sesuai. Untuk mencapai ini diperlukan pengkajian mendalam agar dapat menemukan sistem pengirigasian yang tepat. Meskipun hujan datang, air tidak sampai tergenang dan menenggelamkan akar dan pohon tembakau. Meskipun panas yang terlalu, namun ketersediaan air masih cukup sewaktu-waktu tembakau memerlukan sedikit siraman air.

BACA JUGA:  Komedi Inovasi: Kontradiksi Masyarakat Inovatif dengan Birokrat Terasi

Sebagai kaum miskin yang hanya lebih banyak bergelut dengan ketiadaan, petani tembakau tak sempat memikirkan bagaimana membangun sistem irigasi khusus untuk penanaman tembakau. Mereka juga tidak memiliki modal yang cukup untuk membuat penelitian secara mendalam. Pemerintah sewajibnya terlibat aktif dalam soal ini. Hanya saja laksana mengharap pucuk Rinjani, ia tak pernah turun ke lereng, akhirnya hanya dapat bermimpi dan menerka-nerka tentang pucuk tersebut. Pemerintah seumpama makhkuk halus, ada untuk tidak dapat dirasakan keberadaannya.

Pemerintah sudah tahu musim kadang susah diterka, hujan panas kadang bersambut datang kadang juga bergilir pergi. Kalau pemerintah berpandangan dan berpegang kepada budaya alami semacam itu, ia tak lebih berkuasa dibandingkan petani. Pemerintah tak lebih berakal sehat dibandingkan petani. Kaum petani miskin yang dikonstruk dalam habitus alami akan sentiasa berdamai dengan apa pun situasi alam. Akan tetapi pemerintah tak boleh begitu. Ia berkewajiban mencari jalan keluar baik secara kebijakan, anggaran, ilmu pengetahuan, dan teknologi agar dalam situasi apa pun alam, ketika musim tanam tembakau, alam tidak menjadi sebab kerugian petani tembakau. Pemerintah berkewajiban menemukan sistem irigasi pertanian tembakau agar debit air selalu dapat digunakan secara tepat dan terukur oleh petani tembakau. Karena irigasi yang tidak ditangani secara baik, jika ia dalam debit yang berlimpah berpotensi menenggelamkan tanaman tembakau yang berdampak kepada makin menggunungnya derita petani tembakau.

Perkara yang sama dalam indikator kedua. Sejauh yang saya lihat, hingga sekarang, belum ada perkembangan yang signifikan dalam sistem pertanian tembakau. Cara penanaman tembakau, umur panen tembakau, sistem pembibitan, sistem pemupukan, masih sama atau menyerupai puluhan tahun lalu ketika pertama kali petani mengenal tanam tembakau. Situasi ini berlaku karena pemerintah seolah merasa tidak memikirkan sesuatu. Hati pemerintah tidak tergerak untuk melakukan inovasi yang menghasilkan sistem pertanian tembakau yang lebif efektif dan efisien. Satu situasi yang berbeda dengan sistem pertanian padi.

Sistem pertanian tembakau yang tidak mengalami perkembangan akan berdampak kepada biaya tanam tembakau yang terus semakin mahal. Lahan yang diperlukan untuk tanam tembakau akan terus membengkak. Sirkulasi tanam petani di lahan yang tersedia akan lambat. Semua ini akan berdampak kepada ekonomi petani tembakau yang tidak stabil, bahkan cenderung selalu dalam keterjepitan keuangan.

BACA JUGA:  Sasak Dalam Amuk Deras Neoliberalisme

Kalau pemerintah tidak merasa berkepentingan atau berkewajiban melakukan inovasi dalam sistem pertanian tembakau, situasi itu tidak dapat mengangkat daya saing petani tembakau. Mereka akan selalu berhadapan dengan masalah sosial dan ekonomi.

Lemahnya atau nihilnya responsibilitas pemerintah ini dapat dilihat, sekali lagi, pada stagnasi sistem pertanian tembakau. Padahal, sebagai petani tembakau sudah tentu berharap dengan lahan yang sedikit dapat menghasilkan tembakau setimpal dengan lahan yang luas. Masa tunggu panen yang lama dapat dipendekkan agar petani dapat merotasi jenis tanaman secara cepat. Pemupukan yang sebelumnya berkali-kali dapat dikurangkan karena umur panen tembakau lebih pendek. Apakah ini tidak dapat dilakukan pemerintah? Jangankan perkara kecil macam ini, buat jembatan penghubung dua pulau, membangun kereta gantung ke Rinjani, membangun fatamorgana KEK Mandalika, memindahkan ibukota negara, membangun bandara yang perlukan dana besar pemerintah dapat lakukan. Kalau sistem pertanian tembakau masih kuno, itu karena pemerintah memang tidur setiap dongeng tembakau diperdengarkan. Pemerintah hanya mengurusi cukai tembakau, bukan berkepentingan kepada petani tembakau.

Tidak jarang petani tembakau tiba-tiba sengsara ketika ada masalah dengan oven. Sejauh pengalaman saya, pemerintah belum pernah secara sistematis dan terporgam regulari membuat penyuluhan atau pendidikan pengovenan tembakau. Padahal dalam sistem pengovenan ini, ada beberapa perkara yang perlu dibuat inovasi. Keselamatan, efisiensi, dan kualitas hasil pengovenan. Pernah satu masa, pemerintah hanya mengeluarkan satu kebijakan paling brutal dan tanpa ilmu yakni menukar bahan kayu dengan minyak tanah sebagai sumber pembakaran. Namun apa yang terjadi? Petani tembakau mengatakan sangat boros, minyak tanah menjadi langka yang berdampak kepada tinggi mahal harga minyak. Selain itu, kualitas tembakau yang dihasilkan juga tidak memuaskan. Ini ialah alasan kenapa pemerintah perlu dinilai mengeluarkan kebijakan secara brutal dan membabi buta.

Pernah juga pemerintah membuat kebijakan melarang petani menanam tembakau. Kebijakan yang tidak memberikan jalan keluar. Malah makin memperosokkan petani tembakau ke jurang kenistaan. Pemerintah diminta berinovasi dalam pengovenan malah melarang penanaman tembakau. Satu amibiguitas ngeri. Pemerintah berdiri pada pihak rakyat atau pada kepentingan diri semata-mata. Tidak jelas sebab yang paling terang ialah petani tembakau yang tak pernah menang.

Akhirnya sekarang, banyak petani tembakau yang kembali menggunakan kayu sebagai sumber pembakaran. Bukan petani tidak sadar yang, apabila terus bergantung kepada kayu, hal itu akan berdampak buruk kepada lingkungan yang semakin banyak kehilangan pohon. Akan tetapi pemerintah tidak memberikan pilihan yang lebih baik. Pemerintah mengeluarkan kebijakan hanya mengikuti kesenangan sendiri, bukan berdasarkan keperluan petani tembakau. Karena itu, seharusnya pemerintah membuat inovasi pengovenan agar petani diuntungkan, alam juga tidak rusak.

BACA JUGA:  HUSNI CHOMSKY (Kehilangan yang Selalu Ada)

Indikator keempat ialah masalah yang sudah menjadi kebiasaan. Pemerintah menyerahkan harga sepenuhnya kepada kaum neolib tembakau. Para taipan tembakau secara bebas mengontrol harga tembakau. Mereka juga secara semau perut menentukan jenis tembakau dengan membuat indikator yang kadang tidak masuk akal. Para neolib ini benar-benar bebas seolah-olah sudah terjadi kesepakatan dengan pemerintah yang perlu membayar upeti kepada mereka. Akibatnya, para taipan berwatak jahat ini tiba-tiba menetapkan harga tembakau berdasarkan prinsip mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari penderitaan petani tembakau.

Petani tembakau yang berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, berkeyakinan yang, tembakau mereka berkualitas, namun karena taipan yang menentukan harga, taipan secara merdeka menentukan tembakau sebagai kualitas rendah. Akibatnya, hasil panen tembakau petani tidak ditentukan oleh jumlah dan kualitas tembakau melainkan bergantung kepada ketentuan yang dibuat oleh taipan. Situasi ini menegaskan yang, petani tembakau tak pernah berada dalam zona aman dan untung. Selain bergelut dengan teka-teki nasib diri mereka dan tembakau yang mereka tanam sepanjang proses penanaman, mereka juga berhadapan dengan perjudian harga yang dibuat oleh para taipan. Petani tembakau tak pernah benar-benar bahagia karena mereka hanya punya hak menanam, tetapi samaksekali tidak memiliki hak menentukan harga. Ini salah satu ciri utama neoliberalisme mengangkangi siapa yang berkuasa.

Pemerintah yang diharapkan membela, memperjuangkan harga tembakau mereka sembunyi di balik hutang budi kepada taipan. Pemerintah tidak mempunyai kuasa membela petani karena kekuasaan mereka sudah diikat kuat di ketiak kuasa duit para taipan.

Elegi kaum petani tembakau miskin. Mereka tidak punya pembela karena pemerintah juga perlukan pembela di hadapan para taipan penentu tunggal harga tembakau.

Elegi kaum petani tembakau miskin. Tidak menanam tembakau jadi miskin, menanam tembakau tidak juga dapat menambah baik keadaan.

Elegi kaum petani tembakau miskin. Setiap kemalangan di tanggung sendiri karena pemerintah juga bernasib malang di depan kaum taipan.

Elegi kaum petani tembakau miskin. Kaum yang tak pernah bebas dari hutang.

Malaysia, akhir Zulqaidah 1442 H.