Siapa yang Mengatur dan Mengontrol Sasak? (Refers to Noam)

Semua orang Islam meyakini sepenuhnya yang bumi langit beserta isinya dikuasai dikontrol oleh Tuhan Yang Maha Melihat. Namun bagaimana jika yang ikut-ikutan mengontrol ialah orang, bangsa, negara, kekuasaan, partai, organisasi atau pun taipan yang berwatak jahat?

Ide tulisan ini sebenarnya sudah lama ketika beberapa tahun lalu saya membaca buku Who Rules the World karya Noam Chomsky, “the father of modern linguistics” berkebangsaan Amerika. Ilmuwan sosial yang cukup berpengaruh abad ini.

Meskipun buku itu tidak menyinggung diri kita secara langsung, namun saya dapat membayangkan betapa dunia ini sangat keras dan kejam. Kasih sayang, human right tak lebih dari sekadar jualan di atas kepentingan utama “national security” negara tertentu atau “VVIP and VIP security” orang atau kelompok tertentu.

Kekerasan, kekejaman hingga pembunuhan tak kurang melodramatik dibandingkan drama-drama Korea yang juga turut serta menguasai dunia saat ini. Betapa kekerasan dan kekejaman simbolik dan tersembunyi ialah peradaban yang diburu oleh sekelompok manusia. Termasuklah terorisme itu tak lebih dari hanya satu bagian penting dari skenario yang sudah diatur lalu dikontrol sedemikian rupa. Ketakutan ialah bagian dagangan sebelum menjadi pintu masuk untuk kekuasaan tertentu. Selepas itu penguasaan dibungkus sangat rapi dalam ideologi kontradiktif: yang satu penajahat dan yang satu lagi ialah pahlawan. Begitu kejamnya, tak peduli yang dijagal ialah pemimpin sah yang dipilih rakyat. Jika sudah waktunya dilenyapkan, ia harus ikut aturan. Dibumihanguskan.

Maka tak heran jika Chomsky pun mengistilahkan sebagai “killing without intent”. Membunuh tanpa niat. Namun pembunuhan mesti dijalankan juga. Pembunuhan yang kita saksikan baik di depan mata kita sendiri maupun melalui siaran televisi tidak memerlukan bukti, penjelasan, argumentasi. Ia hanya perlu diberitakan, bahkan disiarkan secara langsung sebagaimana sebuah pertandingan tinju dan perlombaan olah raga lainnya. Ini bertujuan selain untuk memberikan ancaman sekaligus ketakutan massal, juga untuk menegaskan satu aturan, yakni siapa yang pantas mengatur dan siapa pula yang pantas dikontrol.

Setiap jengkal tanah di muka bumi ini seolah sebagai sumber ketakutan yang tak perlu disadari. Sebab ia memang sengaja diciptakan dalam bentuk ketidaksadaran agar semua kita menerima dan menyepakatinya sebagai satu bentuk menghapus kekejaman dengan cara yang lebih kejam dan brutal. Kita tak lebih dari sekadar makhluk yang diselimuti setiap saat oleh kesadaran palsu di mana kita tahu itu satu kezaliman namun kita tidak sadar bahwa itu benar-benar kejahatan. Kita sadar itu ialah kejahatan besar namun kita tak memiliki kesadaran untuk mengutuk kebrutalan tersebut. Kita tahu dan kita sadar, namun kita tiada kuasa untuk melawan kesadisan.

Kita sentiasa berhadap-hadapan dengan stigmatisasi yang didaurulang secara sistematik. Software-software canggih yang dibuat untuk mengutuk, membunuh lawan melalui ideologi palsu bernama stigmatisasi. Dikotonomi negara maju, negara berkembang, negara dunia ketiga, negara timur jauh, negara adikuasa, negara terbelakang hanyalah produk stigmatiasi untuk tujuan kebenaran melakukan kejahatan baik dalam bentuk perang langsung maupun melalui kolonialisasi ekonomi dan kebudayaan.

BACA JUGA:  Pembelajaran Waktu Dari Masnun Tahir (Begitu Ada, Waktu Tak Pernah Ada)

Kita tak ada habis-habisnya menjumpai stigmatisasi keji hanya karena kita memang diperlukan untuk diatur. Maka kita pun terbiasa, tidak terkejut samasekali ketika malam ini seseorang sedang mendiskusikan kemanusiaan, pagi esok sebelum matahari menanjak, ia sudah distigmatisasi sebagai anti kemanusiaan dan semudah membalik telapak tangan, mereka yang melacurkan diri kepada kebinatangan mendadak malah menjadi rujukan kemanusiaan itu sendiri.

Stigma negara sebagai pendukung dan ladang teroris tidak perlukan pembuktian. Dan negara tersebut tidak berhak membela diri. Tidak juga mempunyai media untuk membersihkan diri dari stigma teroris. Sebab negara tersebut sudah diatur sebagai negara yang wajib dimusnahkan. Dan kita tidak mengatakan aneh yang, negara pemusnah negara orang lain yang berdaulat sebagai teroris. Begitulah pengaturan itu. Maka Chomsky memetakan tiga jenis kebiadaban pembunuhan tersebut. Murder with intent, accidental killing, and murder with foreknowledge but without specific intent. Pemusnahan dengan niat meskipun niat tidak diperlukan karena yang utama ialah tindakan membunuh, tindakan memusnahkan manusia atau negara. Pembunuhan yang dipandang sebagai kecelakaan. Kita dibuat tidak dapat membedakan antara sengaja dibunuh atau tidak sengaja dicelakakan. Selain itu, kebiadaban yang diketahui namun pengetahuan tidak penting sebagaimana tidak bergunanya niat. Yang penting bangsa, manusia, negara atau siapa yang sudah ditarget harus musnah.

Atas semua itu, kita sebagai kelompok yang tidak berkuasa berada dalam posisi seperti yang disebutkan sebelum ini sebagai kesadaran palsu. Pengetahuan menjadi tidak penting sebab tak mampu mengubah keadaan. Semuanya atas kontrol kekuasaan itu sendiri. Chomsky menarasikan seperti ini. State power has to be protected from its domestic enemy; in sharp contrast, the population is not secure from state power. A striking illustration is the radical attack on the constitution by the Obama administration’s massive surveillance program. It is, of course, justified by “national security.” That is routine for virtually all actions of all states and so carries little information.

Satu kekuasaan seolah tidak perlu melindungi manusia sebab yang wajib ialah melindungi kekuasaan itu sendiri. Serangan kejam yang dilakukan kepada seseorang bukan karena orang tersebut terbukti atau benar-benar bersalah melainkan karena tujuan kekuasaan yang tidak jelas, yakni melindungi kekuasaan atas nama keamaan nasional. Di sini nampak jelas yang kita hanya boleh satu pengetahuan, misalnya, bahwa yang dilakukan oleh Amerika ialah untuk melindungi warga negara dan negara mereka dari kejahatan luar. Namun kita tidak boleh mempunyai pemahaman yang, apa yang dilakukan oleh Saddam Hussein, Khadafi, dan lainnya juga merupakan tindakan mengamankan negara dari kejahatan luar. Sekali lagi tidak boleh, sebab yang mengatur kebenaran itu ialah Amerika.

Kita juga tidak boleh mengatakan para turis yang telanjang di kampung halaman kita yang indah bukan kejahatan kebudayaan yang berdampak buruk terhadap kebudayaan kita yang menakjiskan ketelanjangan. Kita hanya punya satu kewajiban, yakni mempercayai itu sebagai yang paling benar dan menerima itu sebagai satu kenyataan yang tak dapat ditampik. Akhirnya, di kepala kita pun terkonstruksi satu konsep saja tentang terorisme yaitu hanya pembunuhan sadis (itu pun hanya boleh merujuk kepada siapa yang dibentuk sebagai musuh bukan kesadisan yang dibuat sang pengatur sang pengontrol), bukan berbentuk simbolik seperti ketelanjangan mereka dan pendirian pusat perdagangan di tengah kemiskinan kita.

BACA JUGA:  TIGA TAHUN ZULROHMI (Kerja Sudah Selesai Tinggal Menghitung Strategi)

Thus, dari pendalaman tersebut di atas kemudian saya menghubungkannya dengan Sasak. Apakah itu satu hal yang berlebihan? Jika merujuk kepada realitas orang Sasak di kampung mereka sendiri, nampak seperti bangsa yang diatur dan dikuasai oleh sesuatu yang asing, sesutau yang aneh, sesuatu yang abstrak namun kekuatannya sangat nampak dan kuat, upaya saya menghubungkan pandangan Chomsky dengan situasi Sasak, tidak berlebihan.

Siapa yang mengatur dan mengontrol Sasak? Kita tahu namun tidak memiliki kesadaran untuk menampik pengetahuan itu dengan melakukan perlawanan. Kita ada kemauan besar untuk melakukan perlawanan, namun kita tidak mempunyai keupayaan yang cukup. Ini pun ialah satu realitas di mana, Sasak memang sudaha ada yang mengatur dan mengontrol.

Yang mengatur dan mengontrol itu tidak bertujuan untuk memusnahkan orang Sasak. Tidak juga membunuh mereka seperti kesadisan yang dipertontokan dalam jualan perang Israil-Palestina. Sekali lagi tidak. Malahan, mereka menginginkan populasi orang Sasak makin bertambah dan terus bertambah. Bagi mereka, populasi itu sangat penting sebab jumlah orang Sasak yang terus bertambah ialah pasar. Orang Sasak dikontrol menjadi pembeli. Menjadi pemuja. Meskipun dalam kemiskinan sekalipun, orang Sasak diplot menjadi pembeli. Akhirnya, setelah pemerasan itu berlangsung secara terus-menerus hingga orang Sasak tidak punya apa-apa lagi selain tubuh dan dirinya sendiri, maka kedua hal itulah yang digunakan untuk membeli. Endingnya ialah perbudakan karena habis harga diri setelah segala milik diperas secara keji tanpa orang Sasak sadari.

Apa tanda atau bagamaina gejala itu dapat dikenali? Amat sederhana, sebenarnya. Namun sekali lagi, kita tidak dikehendaki untuk menyadari tanda-tanda itu. Sedikit contoh di tengah banyak tanda yang lain saya coba kemukakan yakni tanah yang semakin mahal, bahkan sangat tak terjangaku karena menggilanya harga di perkotaan. Tanah yang tidak lagi dimiliki oleh orang Sasak.

Kenyataan bahwa tanah di Mataram, misalnya, sering kali lebih mahal dibandingkan dengan di kota besar lainnya di Indonesia. Namun selalu ada pembeli. Siapa mereka, ya si tukang pengatur dan pengontrol itu.

Karena tanah begitu mahal, ada dua hal yang dapat terjadi. Orang Sasak Mataram akan tersingkir dari pusat kota, pergi menepi ke Lombok jauh karena mereka tak mampu bergaul di tengah harga tanah yang menistakan itu. Berikutnya, orang Sasak Mataram berlomba-lomba menjual sepetak tanah yang mereka punya karena iming-iming harga yang fantastis. Dalam situasi mereka kekurangan uang dan di tengah mimpi ingin menikmati madu pembangunan Mataram, tentu saja mereka dapat dengan mudah menjual tanah tersebut. Akibatnya sama, mereka tersingkir juga dari tengah kota. Memberikan jalan dan arena seluas-luasnya bagi sang pengatur untuk semakin bebas kuat mengontrol.

BACA JUGA:  Pembelajaran Waktu Dari Masnun Tahir (Begitu Ada, Waktu Tak Pernah Ada)

Tanah-tanah strategis maupun bukan, tak lagi menjadi milik orang Sasak. Mereka menumpang di rahim nenek moyang mereka. Tanjung Ringgit, misalnya, sudah lama dikuasai sang pengatur. Lihat bagaimana hebatnya penerapan “domestic and private security” yang dilakukan oleh Jeeva Beloam. Pantai Surga yang sudah disekuriti sedemikian ketat yang berakibat pada terusirnya orang Sasak Jembe, Beleke dan tempat lain dari tanah yang dahulu nenek moyang mereka dapatkan dengan mempertaruhkan keseluruhan nyawa. Ekas, Serewe, Kaliantan, sedang menuju kepada penguasan sang pengatur.

Hal serupa terjadi di Kute, tempat yang paling dibanggakan oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Gemerlap dan aroma madu “kemajuan” telah menyebabkan orang Sasak Kute terhalau dari tanah nenek moyang mereka, baik secara sukarela maupun dipaksa. Kita tak mau belajar pada Senggigi yang kini hanya menyisakan bilik pelacur bagi orang Sasak. Sedangkan di muka Senggigi itu, para pengatur sedang berpesta pora tanpa kita berani mengatakan yang, perilaku itu ialah penjajahan simbolik yang kejam. Sebab pada akhirnya nanti, orang Sasak akan berperilaku sama juga dengan mereka. Telanjang.

Situasi di atas menarik jika merujuk konsep Chomsky sebagai “the American Idea”, di mana semua yang terjadi di tengah orang Sasak ialah bukan berdasarkan kehendak mereka, bukan berpegang kepada mimpi dan imajinasi mereka tentang kemajuan Sasak itu. Melainkan realitas Sasak kini dan masa depan ialah lahir dari ide kehendak sang pengatur yang bertujuan secara kuat dan menyeluruh manguasai Lombok beserta segenap isinya. Mereka mengatur dan mengontrol. Orang Sasak menjadi budak yang hanya tinggal nama bangsa namun sudah kehilangan segala-galanya.

Situasi yang akan terjadi di atas, Chomsky menggambarkan seperti ini. The capitalist revolution instituted a crucial change from price to wage. When the producer sold his product for a price, Ware writes, “he retained his person. But when he came to sell his labor, he sold himself,” and lost his dignity as a person as he became a slave—a “wage slave,” the term commonly used.

Ketika telah sampai pada situasi di mana orang Sasak sudah kehilangan segala-galanya, mereka tak dapat lagi berbuat apa-apa. Kemajuan yang terjadi di Lombok, karena sudah dikendalikan oleh sang pengatur, mereka juga mengatur yang boleh menyerap madu Lombok ialah hanya dari golongan mereka. Hotel dibangun, motorGP dibangun, jalan raya dibangun, super market dibangun dan pembangunan lainnya sebagian besar mempekerjakan orang-orang sang pengatur. Sementara orang Sasak yang sudah kehilangan segala-galanya hingga nihil martabat itu hanya ditempatkan sebagai “wage slave”.

Kita tahu, sebagian gambaran di atas sudah terjadi, bahkan sudah lama terjadi. Namun sebagai orang Sasak, kita tak memiliki kesadaran untuk mempertahankan diri dan bangsa sendiri berdasarkan asas “domestic security”. Jika pun mempunyai kesadaran, kita tak mampu berbuat apa-apa, sebab sudah telanjur Lombok jatuh ke tangan “The Controllers”. “The Rulers”.

Apakah Sasak masih mempunyai harapan?

The hope, where are you?

Malaysia, Ujung Bulan Syawal 1442 H.