MATARAMRADIO.COM — Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan menjelaskan pembangunan kebudayaan tidak dapat dilakukan secara parsial tapi perlu keselarasan data, program, dan arah kebijakan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.
“Kebudayaan bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Kebudayaan adalah investasi masa depan. Karena itu, data, program, dan kebijakan harus bergerak dalam satu irama. Provinsi hadir sebagai fasilitator kebijakan dan pendampingan teknis, sementara kabupaten menjadi garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan komunitas budaya,” katanya saat bersilaturahmi dengan instansi terkait sekaligus meninjau Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Bale Beleq Pejanggik di Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Kamis 4 Juni 2026.
Menurut Ihwan, tujuan akhir pembangunan kebudayaan bukan hanya menjaga keberlanjutan warisan leluhur, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber pembelajaran, penguatan identitas, serta penggerak ekonomi masyarakat.


Senada, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah, Lalu Idham Halid menyatakan sinergi dengan Pemerintah Provinsi NTB akan mempercepat upaya perlindungan terhadap berbagai objek budaya yang tersebar di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Timur.
“Kabupaten memiliki banyak potensi budaya, mulai dari cagar budaya, tradisi lisan, hingga pengetahuan tradisional yang membutuhkan perhatian serius. Dukungan provinsi sangat penting untuk mempercepat proses pelindungan sekaligus pemanfaatannya bagi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya yang diamini Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Lalu Bayan.
Zainuddin, tokoh masyarakat setempat menyatakan Bale Beleq dibangun pada tahun 1972 atas prakarsa TGH Sibawaih. Bangunan tersebut didirikan sebagai simbol pengingat sejarah perjuangan dan perlawanan masyarakat Sasak terhadap berbagai bentuk penaklukan yang pernah terjadi di masa lampau.
Di lokasi yang sama, kata Zainuddin diyakini pernah berdiri masjid tempat Raja Pemban Mas Meraja Kusuma menjalankan aktivitas keagamaan.
Bagi masyarakat Pejanggik, jelas Zainuddin Bale Beleq bukan sekadar bangunan fisik. Ia merupakan penanda ingatan kolektif tentang kebesaran kerajaan, pusat penyebaran Islam, sekaligus simbol ketahanan budaya masyarakat Sasak. ***





















































































































































