Jejak Denek Keramat di Batu Kumbung

H Mundry dan pamong madya Museum NTB, Bunyamin

MATARAMRADIO.COM – Desa Batu Kumbung Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat selain kaya dengan hasil bumi juga memiliki sisi sejarah yang tak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam pada masanya.


Di masa lalu, perkembangan Islam khususnya di Desa Batu Kumbung tak bisa dilepaskan dari sosok Denek Keramat atau Wali  Denek.


Berdasarkan cerita tutur, Denek Keramat datang ke wilayah Batu Kumbung saat Islam baru berkembang, sebelum masuknya kerajaan Karang Asem.


Saat Denek Keramat datang, kondisi Batu Kumbung masih banyak pepohonan besar dan warga yang berdiam di wilayah tersebut masih sedikit.


Ketika Denek Keramat datang, tiada yang mengetahui persis kapan datangnya. Namun, ketika bertemu dengan leluhur Batu Kumbung, maka Denek Keramat Simpang (mampir) dan duduk di atas bale-bale  Di kemudian hari, tempat pertemuan Denek Keramat dengan Leluhur Batu Kumbung dikenal sebagai Bale Lungguh.


Di Bale Lungguh itulah, Denek Keramat dan Leluhur Batu Kumbung banyak berbincang berbagai hal termasuk soal agama Islam.


Awalnya, kehadiran Denek Keramat tidak dianggap oleh warga. Bahkan, seringkali Denek Keramat diperolok-olok. Puncaknya, ketika Denek Keramat dibakar dengan menggunakan dedaunan dan ranting.

BACA JUGA:  Riset Ilmuwan Eropa Tentang Leak Lombok


Saat itu, warga banyak berteriak Denek akan terbakar ….Denek akan terbakar tetapi ternyata tidak terbakar.


Bagi mereka yang sudah mengenal syariat Islam, kejadian tersebut semakin mempertebal keyakinannya kepada agama Islam


Sekian lama hidup bersama masyarakat Batu Kumbung, suatu saat ada jamaah yang mengajak Denek Keramat ke Punikan karena mereka juga sering melihat Denek Keramat di wilayah tersebut.
Ajakan tersebut dijawab dengan lembut, ” silahkan duluan,” katanya.


Ucapan itu menjadi pertanda sehingga orang yang mengajak berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan kuda.


Sesampainya di Punikan,  dia bertanya kepada jamaah yang sudah hadir karena mendapat kabar kalau Denek Keramat sudah berada di lokasi. “Mana Denek? tanyanya.


Pertanyaan itu dibalas dengan menunjuk satu sosok yang tengah khusu berdzikir di dalam masjid.
Kejadian tersebut sontak membuat jamaah semakin hormat kepada Denek Keramat.

Peninggalan Denek Keramat

Menurut H Mundry, sesepuh di Desa Batu Kumbung selama bergaul dengan masyarakat Batu Kumbung, Denek Keramat atau nama lainnya Syeiik Abdullah Zein Al Hamdy terus mengajarkan agama Islam  dalam kehidupan sehari-harinya. Masyarakat yang dulu belum mengenal Islam kemudian tertarik dan memeluk Islam sebagai agamanya.

BACA JUGA:  Roemah Toea di Kopang Pedalaman

Berbilang tahun telah dilewati, suatu saat Denek berucap,” jika masyarakat ingin bertemu denganku maka datanglah ke tempat ini,” jelas Mundry  sambil menunjuk tempat yang sering digunakan Denek Keramat untuk berkhalwat  (menyepi untuk berdzikir).


Setelah berucap seperti itu, Denek Keramat tidak bisa lagi ditemui masyarakat seperti biasanya. Dan untuk mengenang jasa perjuangan Denek Keramat dalam menyebarkan ajaran Islam, setiap tahun warga Batu Kumbung mengadakan rowah (syukuran) di tempat Denek Kramat berkhalwat.


Meski secara jasad sudah tidak bisa ditemui lagi, jelas Mundry ada beberapa benda peninggalan Denek Keramat yang masih tersimpan di Bale Lungguh seperti kaki ayam, tali layang-layang dan bilok kuning.
“Benda-benda peninggalan tersebut memiliki nilai filosofis,” katanya.


Kaki ayam, jelas Mundry memiliki makna bahwa orang hidup didunia harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.


Sementara tali layang-layang memiliki  makna  siapapun jika talinya sudah putus,(kehidupannya sudah berakhir) bisa terjatuh dimana saja, tidak peduli tempatnya.

Cerita Misteri


Cerita yang dituturkan secara turun temurun, terus mewarnai kehadiran Denek Keramat di Batu Kumbung.
Ini terbukti dengan banyaknya warga yang berziarah ke maqom Denek Keramat. Bahkan, warga dari luar Batu Kumbung pun banyak yang berziarah ke maqom Denek Keramat  berkhalwat. “Banyak yang datang dari Lombok Tengah dan Lombok Timur ke sini,” kata  Mundry.

BACA JUGA:  PETUALANGAN DUA ANTROPOLOG AUSTRALIA BERBURU LÉAK DI LOMBOK (Bagian 1)


Menurut Mundry, para peziarah yang datang ke Maqom Denek Keramat membawa maksud dan tujuan masing masing, ada yang bernadzar ada juga yang berziarah seperti biasa tapi ada juga yang berziarah setelah mendapat mimpi. Selain  ada juga kejadian yang sebelumnya tidak terduga.


Suatu saat, kata Mundry ada seseorang yang tiba-tiba datang ke Batu Kumbung  untuk meminta air sebagai obat untuk anaknya yang sedang sakit
Datang kedua kalinya, ia datang bersama anaknya dan mandi di pancuran Denek.
Ada juga anak-anak mahasiswa yang  lagi KKN tiba-tiba kesurupan. Setelah ditanya temen-temennya, katanya baru pulang  dari maqom Denek Keramat.
Staf desa yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta air. Setelah diminumkan air, ia bisa sembuh tapi kambuh lagi.
Setelah diingat-ingat ternyata salah ambil air. Kemudian, staf desa kembali dan membawa air lagi kemudian diminumkan. Mahasiswa itu tidak kesurupan lagi.***