Perempuan ICMI Tegaskan Ketahanan Keluarga Jadi Tameng Utama Hadapi Krisis Sosial dan Disrupsi Digital

Perempuan ICMI menegaskan ketahanan keluarga sebagai benteng utama menghadapi krisis sosial dan tantangan digital.

MATARAMRADIO.COM — Di tengah derasnya arus disrupsi digital dan meningkatnya kompleksitas persoalan sosial, ketahanan keluarga kembali ditegaskan sebagai fondasi utama menjaga keutuhan bangsa.

Isu strategis ini mengemuka dalam kegiatan Refleksi/Muhasabah Akhir Tahun Perempuan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perempuan ICMI, Selasa, 30 Desember 2025.


Mengusung tema “Ketahanan Keluarga sebagai Pondasi Menghadapi Tantangan Sosial Kontemporer”, forum reflektif tersebut berlangsung pukul 13.20–16.20 WIB di ICMI Center, Jakarta, serta diikuti secara luring dan daring oleh sekitar 100 peserta. Peserta berasal dari jajaran pengurus DPP Perempuan ICMI, perwakilan DPW Perempuan ICMI se-Indonesia, komunitas kajian perempuan, hingga masyarakat umum.

Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi kolektif atas semakin nyata dan kompleksnya tantangan sosial, moral, serta digital yang secara langsung memengaruhi stabilitas keluarga. Fenomena degradasi nilai, kekerasan berbasis gender, paparan pornografi, hingga ancaman kejahatan digital dinilai kian menguji ketahanan keluarga Indonesia.

Dalam sambutan sekaligus keynote speech, Ketua Umum DPP Perempuan ICMI, Dr. Welya Savitri, M.Si, menegaskan bahwa keluarga yang kuat merupakan benteng pertama dalam menghadapi krisis nilai dan potensi disintegrasi sosial.

BACA JUGA:  Orangtua Diminta Awasi Penggunaan Gadget Anak

“Ketahanan keluarga adalah fondasi utama bangsa. Dari keluarga yang kuat akan lahir generasi yang berkarakter, berdaya, dan bermoral. Refleksi akhir tahun ini adalah ajakan untuk melakukan introspeksi dan perbaikan berkelanjutan,” ujarnya dilansir dari siaran pers yang diterima MATARAMRADIO.COM, Selasa (30/12).

Welya menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai, pendidik utama generasi, sekaligus penggerak perubahan sosial. Menurutnya, penguatan ketahanan keluarga tidak dapat dilepaskan dari kapasitas perempuan dalam membangun lingkungan rumah yang aman, sehat, dan berdaya di tengah tekanan zaman.

Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang keahlian berbeda, namun memiliki irisan pandangan yang sama mengenai pentingnya keluarga sebagai basis perlindungan sosial. Dr. Dewi Inong, Sp.KK, dokter spesialis kulit dan kelamin, menyoroti dampak serius pornografi, perilaku seksual berisiko, serta krisis peran ayah dalam keluarga modern.

“Banyak persoalan kesehatan, trauma psikologis, dan penyimpangan perilaku anak berakar dari keluarga yang tidak utuh dan ketidakhadiran peran ayah, baik secara fisik maupun emosional,” jelasnya.

BACA JUGA:  Pengaruh Pergaulan Bebas dan Media Sosial, Ratusan Pelajar di Ponorogo Hamil di Luar Nikah

Ia menegaskan bahwa pencegahan penyakit menular seksual, perilaku adiktif, serta penyimpangan perilaku harus dimulai dari lingkungan keluarga. Kesetiaan dalam pernikahan, pendidikan seksualitas yang sehat dan sesuai usia, serta komunikasi terbuka antara orang tua dan anak disebut sebagai langkah mendasar yang tidak bisa ditawar.

Sementara itu, Azimah Subagijo, M.Si, MBA, Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) yang juga menjabat Wasekjen DPP Perempuan ICMI, mengingatkan bahaya kekerasan berbasis digital yang semakin masif. Ia menilai rendahnya literasi digital keluarga menjadi celah besar bagi berbagai bentuk kejahatan siber.

“Pornografi, kekerasan seksual daring, hingga manipulasi berbasis kecerdasan buatan adalah tantangan nyata. Keluarga harus menjadi ruang aman pertama, dan literasi digital harus dimulai dari rumah,” tegasnya.

Menurut Azimah, penguatan ketahanan keluarga di era digital tidak cukup hanya mengandalkan nilai moral, tetapi juga membutuhkan pemahaman teknologi yang memadai. Ia mendorong sinergi antara regulasi yang berpihak pada korban, layanan perlindungan yang terpadu, serta edukasi publik yang berkelanjutan agar keluarga tidak menjadi korban pasif dari kemajuan teknologi.

BACA JUGA:  Pengalaman Spiritual Mike Tyson Menjadi Muallaf

Sesi diskusi yang berlangsung interaktif memperlihatkan kesepahaman peserta bahwa kedekatan emosional, komunikasi terbuka, serta keterlibatan aktif ayah dan ibu merupakan faktor protektif utama dalam melindungi anak dan perempuan dari berbagai risiko sosial. Ketahanan keluarga dipandang bukan hanya sebagai konsep normatif, tetapi sebagai praktik nyata yang harus dibangun setiap hari.

Refleksi akhir tahun ini juga menegaskan bahwa tantangan sosial kontemporer tidak dapat dihadapi secara parsial. Keluarga, komunitas, dan negara harus berjalan beriringan dalam membangun sistem perlindungan yang kokoh. Tanpa keluarga yang tangguh, upaya pembangunan sumber daya manusia dinilai akan rapuh dan tidak berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama serta ajakan memperkuat kolaborasi lintas sektor. DPP Perempuan ICMI menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mendorong penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan manusia dan bangsa, sekaligus sebagai tameng utama menghadapi krisis sosial dan disrupsi digital yang kian kompleks.***