Oleh: DR Salman Faris

Memang sangat tidak sebanding menyandingkan antara Gubernur Sandalan dengan Sandal Jepit Gandhi. Namun ini sengaja saya lakukan untuk sedikit menemukan perbedaan kedalaman hidup dengan simulasi gaya. Selain itu, perbandingan ini juga untuk menunjukkan bahwa siapa tahu ada perbedaan antara dua jalan yang mirip.

Sebagai sebuah teks, Sandalan tidak dapat dilihat secara sederhana terutama sekali jika difahami sebagi sesuatu yang menunjukkan kesederhanaan yang tersemat di dalamnya merakyat, egaliter, anti elitis, proletar atau pro marhaen. Dengan begitu, Sandalan perlu diuji pesan dan makna subjek yang mengobjektivasi sandal. Cara mengujinya bukan dengan pemaknaan tunggal yang sandal tersebut menandakan pecinta dan pembela kaum bawah. Apalagi jika dihubungkan dengan tujuan tindakan politik, ia menjadi ruang yang amat luas, bahkan bisa jadi perwakilan sandal sebagai rakyat jelata sama sekali tidak ada hubungannya sebab ia berpotensi sebagai wacana politik citra yang bertujuan menggerus pencoblos.

Nalar sederhananya begini, si Gubernur Sandalan yang kesehariannya di rumah juga (boleh jadi) memakai sandal, kemudian gaya belakang panggung tersebut di bawa ke depan panggung untuk diinteraksikan dengan publik. Gaya privasi yang dipublikasi perlu dicurigai sebagai satu tindakan yang bertujuan. Dengan begitu, Gebernur Sandalan tidak lagi secara sepenuhnya menjadi dirinya sendiri sebab sandalan itu sudah dibebani tujuan. Dalam pendekatan kontemporer, terutama jika dihubungkan dengan citra dan gaya, boleh dikatakan hampir setiap privasi yang dipublikasi sekurang-kurangnya bertujuan publisiti. Bahkan dalam pendekatan media dan komunikasi kapitalis, privasi yang dipublikasi tersebut bertujuan kapital. Orang yang terkenal (tokoh publik) mempublikasi kehidupan pribadinya tak lagi bertujuan untuk mendekatkan kemanusiaan, melainkan untuk mengeruk keuntungan dari runtuhnya kemanusiaan yang ia programkan melalui kebohongan gaya dan citra. Banyak sekali artis makin kaya hanya karena dia mempublikasi privasi seperti cara makan, tidur, bahkan gaya bercinta.

Adakah patut meneropong Gubernur Sandalan dengan medium kritis di atas? Memang nampak kurang patut, namun ia diperlukan untuk menemukan relasi antara sandal dengan sang gubernur. Membedah relasi inilah yang dapat sedikit membantu untuk menemukan adakah pemaknaan Gubernur Sandalan tersebut ada hubungannya dengan keberpihakan kepada kejelataan atau malah sebaliknya, yakni mengkapitalisasi dengan cara mengindustrialisasi kejelataan. Hal ini, misalnya, dapat dilihat dari brand sandal yang digunakan kemudian menghubungkannya dengan kepemilikan kapital sang gubernur dan kuasa yang melekat padanya.

Kemudian kita dapat secara sederhana mengkomparasikan dengan Sandal Jepit Gandhi. Bisa jadi Sandal Jepit Gandhi pun tidak sepenuhnya menggambarkan kejelataan. Namun perlu diingat yang Winston Churchill, yang pada masa Gandhi ia menjadi Perdana Menteri Inggris pernah menilai Gandhi menyedihkan. Winston mengatakan Gandhi sebagai seorang jelata menaiki tangga Istana Viceregal dengan badan setengah telanjang. Secara tak terduga, Einstein pernah juga menyuluhkan kekaguman kepada Gandhi dengan mengatakan mungkin generasi di masa mendatang tidak dapat mempercayai yang ada manusia seperti Gandhi pernah hidup di muka bumi ini. Baik Winston maupun Einstein memandang Gandhi dalam dua sisi, yakni Gandhi sebagai politisi dan spiritualis.

Sandal Jepit Gandhi dapat ditelusuri dari sebuah cerita menarik. Gandhi mengejar kereta yang melaju cepat sehingga sebelah dari sandal jepitnya jatuh. Setelah itu ia melempar sandal jepit yang satunya sambil mengatakan siapa saja yang menemukan sandal jepit tersebut dapat memakainya.

Ada beberapa yang menarik merelasikan Gubernur Sandalan dan Sandal Jepit Gandhi. Pertama, Gandhi menggunakan sandal jepit dalam kehidupan yang amat sederhana bahkan hampir sepenuhnya menjelata. Kedua, Gandhi menggunakan sandal jepit sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme. Ketiga, Gandhi menggunakan sandal jepit sebagai ideologi kesetaraan dan persaudaraan kemanusiaan. Bahkan untuk ideologi yang satu ini, Gandhi dibunuh oleh pengikutnya sendiri sebab tidak rela Gandhi mengajarkan kesetaraan orang Hindu dan orang Islam di India. Keempat, dengan menggunakan sandal jepit, Gandhi menjalankan politik manusiawi dengan menghindari melukai dan mendustai apa saja dan siapa saja. Bahkan tak ada seorang pun lawan yang merasa pernah didustai Gandhi. Kelima, Gandhi istikomah hingga akhir hayat menggunakan sandal jepit. Tidak berubah di hadapan siapa pun dan dalam kondisi apa pun.

Adakah Gubernur Sandalan lahir dari ruang terdalam kemanusiaan sebagaimana Ganhdi? Jika ya, maka Rusdianto Samawa sedikit banyak dapat dibenarkan. Namun jika malah sebaliknya, sungguh kasihan nasib sandal dan rakyat yang sudah kadung kepincut dengan sandal.

Malaysia, 5/11/2020