Disdik Mataram Tolak Membuka Sekolah Sebelum Ada Izin Gugus Tugas

MATARAM RADIO.COM, Mataram – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menolak membuka kegiatan belajar tatap muka di sekolah sebelum ada izin resmi dari Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Mataram.

Kalau belum ada izin resmi dari Gugus Tugas Penanganan COVID-19 atau edaran dari Gubernur NTB terhadap dibolehkannya sekolah dibuka, kami tetap tidak mengizinkan sekolah di Mataram melakukan pembelajaran tatap muka,” kata Kepala DisdikKota Mataram H Lalu Fatwir Uzali di Mataram, Selasa.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi usulan dari Pansus COVID-19 DPRD Kota Mataram yang meminta agar aktivitas berlajar di sekolah segera dibuka, dengan tetap mengedepankan protokol COVID-19.

BACA JUGA:  2020, Kasus Kriminal Turun

Menurut Fatwir, membuka sekolah berarti harus berani dalam segala risiko yang ada, tapi jangan sampai sekolah disalahkan apabila ditemukan kasus positif baru COVID-19, dengan klaster sekolah.

Apalagi, sejauh ini Kota Mataram masih berstatus zona merah COVID-19, dengan jumlah kasus tertinggi di NTB, termasuk anak-anak yang terjangkit kasus positif COVID-19.

“Kita akui saat ini sudah banyak orang tua yang meminta agar sekolah dibuka, tapi saya tetap berkomitmen tidak akan membuka sebelum ada izin dari Gugus Tugas Penanganan COVID-19,” katanya.

BACA JUGA:  Puluhan Rumah Rusak Akibat Angin Kencang

Namun demikian, lanjutnya, kegiatan belajar di rumah tetap berjalan dengan dua sistem, yaitu sistem dalam jaringan (daring) atau “online” dan luar jaringan (luring) bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas android.

“Data siswa yang tidak memiliki fasilitas android sudah ada dimasing-masing sekolah. Untuk sistem pembelajaran luring digunakan dua opsi yakni, guru yang mendatangi siswa atau orang tua yang datang ke sekolah mengambil materi pembelajaran,” kataLalu Fatwir Uzali.

BACA JUGA:  Pemprov NTB Pasang Badan Bela Produk Pengusaha Lokal

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi menanggapi usulan masuk sekolah mengatakan bahwa selama memenuhi aturan protokol kesehatan COVID-19 dengan memakai masker dan tidak kumpul-kumpul, mungkin bisa.

“Tetapi kalau belum bisa sebaiknya jangan. Namanya anak-anak, kalau sudah bertemu pasti kumpul-kumpul. Tapi pada prinsipnya, jika sekolah membutuhkan dukungan dari kami, Dinkes siap membantu,” katanya. ( MRC – Ant)