
MATARAMRADIO.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem seni dan budaya daerah. Hal ini disampaikan oleh Dr.H. Ahsanul Khalik, Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial dan Kemasyarakatan, yang mewakili Gubernur NTB dalam acara Pembukaan Manajemen Talenta Nasional Seni dan Budaya (Bidang Sastra) di Aula Rinjani Agung, Vaganza Hotel Mataram, Kamis (11/9).
Acara ini dihadiri Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, M.Tr.A.P., serta sejumlah narasumber nasional dari kalangan sastrawan dan penulis seperti Feby Indriani, A.S. Rosyid, Kiki Sulistiyo, Pranita Dewi, dan Felix K. Nesi. Tak kurang dari 500 peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar turut meramaikan kegiatan ini.
Dalam sambutannya, Ahsanul Khalik menyampaikan pesan Gubernur bahwa Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya merupakan langkah strategis untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan membina talenta seni budaya agar berdaya saing serta memberi kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.


“Ibaratnya, kita sedang berdiri di pintu gerbang sejarah, saat kita menjahit benang-benang talenta muda untuk menjadi kain besar kebudayaan bangsa. Program ini bukan sekadar agenda, melainkan ikhtiar panjang untuk menjaga nyala api peradaban Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ashanul menekankan bahwa NTB adalah tanah yang subur dengan lahirnya tokoh-tokoh budaya yang mewarnai khazanah seni Nusantara. Ia menyebut nama TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dengan karya sastra religiusnya, maestro tari Sasak Amaq Raya, perupa Lalu Yuni Awinggih, hingga penyair nasional asal Sumbawa, Dienullah Rayes.
“Tradisi dan kekayaan budaya NTB seperti Peresean, Tari Gandrung, Lenggo Dompu, Wura Bongi Monca, hingga karya-karya anyaman, tenun, dan sastra lisan seperti Babad Lombok adalah warisan yang terus hidup. Semuanya menjadi modal besar untuk kita kembangkan melalui Manajemen Talenta Nasional ini,” jelasnya.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Provinsi NTB berencana membentuk Dinas Kebudayaan pada tahun 2026. Langkah ini, kata Ashanul, menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni budaya sekaligus mendukung generasi muda NTB agar bisa berkarya di level nasional bahkan internasional.
“Anak-anak muda NTB harus berkarya bukan hanya untuk daerahnya, tetapi juga untuk Indonesia dan dunia. Ini sejalan dengan visi NTB Makmur Mendunia dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Ia menutup sambutan dengan menegaskan bahwa seni dan budaya adalah jiwa bangsa. “Melalui Manajemen Talenta Nasional Seni dan Budaya, kita sedang menulis babak baru: generasi muda sebagai obor yang tak pernah padam, menerangi Indonesia hingga ke pentas dunia,” pungkasnya.***

































































































































