Unsconscious Theory Mantra Ardhana

ki-ka: Mantra Ardhana, Yuga Anggana. (foto: aks)

Mantra Ardhana, seniman lintas medium dengan pengalaman lebih dari lima dekade, memandang bahwa seni adalah bahasa frekuensi.

Ia tidak dibatasi oleh bentuk atau medium; ia bisa hadir sebagai lukisan, musik, gerak, atau bahkan kehadiran benda-benda alam seperti batu.

Bagi Mantra, setiap medium memiliki “receiver” masing-masing. Visual art diterima oleh mata, sementara musik diterima oleh telinga. Namun di balik semua itu, ada arus energi yang sama—frekuensi yang menggetarkan kesadaran manusia.

Di sinilah terjadi apa yang ia sebut sebagai crossing medium, sebuah perlintasan antar medium yang tidak lagi dipisahkan oleh batas teknis atau bentuk. Lukisan bisa berbicara seperti musik, dan musik bisa menari seperti warna.

Dalam proses ini, seni bukan sekadar tampilan luar, tetapi percakapan antara frekuensi batin dan penerimanya.

Konsep crossing medium ini menandai pendekatan Mantra Ardhana yang sangat kontemporer, namun berakar dalam pengalaman spiritual. Ia tidak menempatkan seni sebagai produk yang selesai, melainkan sebagai proses yang terus mengalir. Ia berkata, “Dia mengalir dalam konteks dialog.”

Artinya, setiap karya adalah hasil perbincangan antara seniman dan semesta, antara kesadaran dan ketidaksadaran, antara realitas dan imajinasi.

Mantra Ardhana menyebut bahwa “rasio kita sebenarnya sudah terbajak.” Pernyataan ini membuka refleksi kritis terhadap kondisi manusia modern. Rasio, yang selama ini dianggap sebagai alat tertinggi untuk memahami dunia, justru menjadi belenggu ketika ia dikuasai oleh sistem, logika pasar, dan algoritma digital.

BACA JUGA:  Galau Penyiaran

Dalam konteks kecerdasan buatan (AI), rasio bahkan tidak lagi murni milik manusia. Mesin kini dapat berpikir, menganalisis, dan menciptakan simulasi kesadaran.

Namun di balik itu, Mantra menemukan satu wilayah yang masih “perawan”: ketidaksadaran. Baginya, ketidaksadaran adalah ruang yang belum bisa direplikasi oleh mesin, ruang di mana intuisi, mimpi, dan spiritualitas bersemayam.

Ia berkata, “Satu-satunya yang saat ini belum dibajak sama kesadaran adalah ketidaksadaran. Jadi di dalam situ saya berkarya.” Dengan kata lain, Mantra menempatkan dirinya di luar logika yang bisa dikalkulasi. Ia memilih berkarya dari wilayah yang liar, tak terpetakan, dan tak terukur.

Dari ketidaksadaran itu lahirlah kesadaran baru. Proses ini bukan paradoks, melainkan siklus. Dalam dirinya terjadi dialog: ketidaksadaran memberi bahan mentah, sementara kesadaran memahatnya menjadi bentuk yang bisa dirasakan orang lain.

Inilah yang disebut Mantra sebagai unsconscious theory—sebuah teori penciptaan yang lahir bukan dari teks akademik, melainkan dari pengalaman eksistensial yang panjang.

Unsconscious Theory Sebagai Jalan Penciptaan

Konsep unsconscious theory yang dijalankan Mantra Ardhana bukan sekadar teori seni, melainkan cara hidup. Ia menyebut bahwa dalam kesehariannya, seni terjadi begitu saja: “Hari-hari saya seperti itu. Sekarang dia jadi musik. Jadi animasi, tiba-tiba ada batu, ya sudah grow up.”

BACA JUGA:  RSI Siti Hajar Mataram (Watak Inlander dan Kepungan Kapitalis Kesehatan)

Kalimat ini mencerminkan spontanitas kreatif yang alami, seperti tanaman yang tumbuh tanpa dipaksa. Setiap bentuk ekspresi adalah bagian dari siklus pertumbuhan—tidak ada yang harus, tidak ada yang dikejar.

Ketika ia bermain piano dengan “konsep ketidaksadaran,” sesungguhnya ia sedang mengizinkan alam bawah sadarnya berbicara. Bunyi yang keluar bukanlah hasil perhitungan harmoni atau teori musik konvensional, tetapi hasil resonansi antara tubuh, jiwa, dan ruang. Dalam konteks ini, musik menjadi bahasa psikis—sebuah kanal untuk menyalurkan energi yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Pendekatan ini menantang paradigma seni modern yang terlalu menekankan pada teknik dan kesempurnaan bentuk. Unsconscious theory justru mengembalikan seni pada hakikatnya sebagai “ungkap personal.”

Mantra tidak ingin terjebak dalam konteks sugestif, artinya ia menolak segala bentuk paksaan eksternal—baik dari ideologi, pasar, maupun tren estetika. Seni baginya adalah cermin dari kebebasan batin, bukan respon terhadap ekspektasi luar.

Lebih jauh, unsconscious theory membuka kemungkinan baru dalam memahami hubungan antara manusia dan teknologi. Ketika dunia semakin dikuasai oleh logika kecerdasan buatan, Mantra justru menegaskan pentingnya ruang batin yang tak bisa diprogram.

Ia membuktikan bahwa di tengah gelombang digitalisasi, intuisi masih menjadi sumber pengetahuan yang paling jujur.

Dari Ketidaksadaran Menuju Kesadaran Baru

Karya-karya Mantra Ardhana tidak hanya berangkat dari ketidaksadaran, tetapi juga menghasilkan kesadaran baru—baik bagi dirinya maupun bagi para penikmatnya. Ia menyebut bahwa dari proses ketidaksadaran itu, “hasilnya adalah sebuah kesadaran.” Di sini, seni menjadi jembatan antara dunia dalam dan luar, antara yang tak terucap dan yang tampak.

BACA JUGA:  Generasi Milenial dan Pilkada Serentak 2024

Ketika seseorang menyaksikan karya Mantra, mereka sesungguhnya sedang diajak memasuki dialog yang sama: dialog antara frekuensi-frekuensi tak kasat mata yang saling menyentuh. Penonton tidak hanya melihat atau mendengar, melainkan ikut merasakan arus energi yang lahir dari ketidaksadaran sang seniman.

Dengan demikian, unsconscious theory bukan sekadar metode penciptaan, tetapi juga ajakan untuk menata ulang relasi manusia dengan dirinya sendiri. Di tengah dunia yang rasional dan serba terukur, teori ini mengingatkan kita bahwa sebagian besar dari keindahan hidup justru lahir dari wilayah yang tak disadari—dari intuisi, mimpi, spontanitas, dan ketenangan yang sunyi.

Mantra Ardhana, dengan unsconscious theory-nya, mengajarkan bahwa seni sejati bukanlah hasil perhitungan, melainkan perjumpaan dengan diri yang paling dalam. Ia menolak untuk terjebak dalam logika kesadaran yang sempit dan justru menyelami arus ketidaksadaran sebagai sumber penciptaan.

Dari sanalah lahir kebebasan, dialog, dan kesadaran baru—bukan hanya tentang seni, tetapi tentang kehidupan itu sendiri.

Seperti katanya, “Sekarang dia jadi musik. Jadi animasi, tiba-tiba ada batu, ya sudah grow up.” Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan filsafat besar: bahwa segala sesuatu tumbuh dengan sendirinya ketika manusia berhenti menguasai, dan mulai mendengarkan suara sunyi dari dalam dirinya.

Akuair-Ampenan, 18-10-2025