Catatan Agus K Saputra
Pagi itu suasana diskusi “dunia maya” terasa hangat. Di antara secangkir kopi dan berkas materi catatan yang sedang saya persiapkan, Prof. Muhamad Ali membuka percakapan dengan kalimat yang menyalakan semangat:
“Terima kasih telah mengingatkan bahwa Perguruan Tinggi bukan sekadar pabrik ilmu, melainkan taman bagi jiwa manusia.”
Kalimat itu seolah menjadi mantra awal yang menandai arah baru pendidikan tinggi—bahwa ilmu pengetahuan sejatinya harus menumbuhkan manusia seutuhnya: berpikir, berempati, dan berdaya.

Dalam percakapan yang berlanjut, Prof. Ali menyampaikan gagasan yang akan menjadi program unggulan apabila kelak ia mendapat amanah memimpin Universitas Mataram (Unram): Human-Eco Happiness.
Konsep human-eco happiness yang diperkenalkan Prof. Ali berangkat dari kegelisahan terhadap arah pendidikan tinggi yang terlalu teknokratis. Perguruan tinggi sering kali sibuk mengejar peringkat, akreditasi, dan indikator kinerja, tetapi lupa bahwa inti dari pendidikan adalah kebahagiaan manusia yang berakar pada keseimbangan dengan alam dan masyarakat.
Human-eco happiness bukan sekadar jargon kebahagiaan ekologis. Ia adalah gagasan yang menautkan dimensi human being (keberadaan manusia) dengan eco system (lingkungan tempat manusia hidup). Artinya, kemajuan universitas tidak hanya diukur dari capaian akademik dan teknologi, melainkan juga dari seberapa besar kontribusinya terhadap kesejahteraan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan harmoni kehidupan kampus.
Dalam konteks inilah, lahir gagasan Program Social Innopreneurship Universitas Mataram (PSIU) sebagai wujud nyata dari filosofi human-eco happiness.
Tak lama setelah percakapan pagi itu, Prof. Ali mengirimkan sebuah gambar dengan narasi singkat namun menggugah:
“Innovation for society — belajar dari TOMS: buat dan jual satu pasang sepatu hasil inovasi, gratis satu pasang sepatu untuk anak-anak yang kurang beruntung.”
Dari narasi sederhana ini tergambar jelas semangat dasar social innopreneurship: mengubah inovasi menjadi aksi sosial yang berdampak. Model TOMS Shoes di Amerika—yang memproduksi dan menjual sepatu dengan konsep buy one, give one—menjadi inspirasi.
Bagi Prof. Ali, konsep semacam itu bisa diterapkan di Unram dalam berbagai bidang inovasi mahasiswa: teknologi, pangan, peternakan, agribisnis, kesehatan, hingga ekonomi kreatif.
Social innopreneurship adalah gabungan antara social awareness (kepedulian sosial) dan entrepreneurial mindset (jiwa kewirausahaan). Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya berpikir “apa yang laku dijual,” tetapi juga “apa yang berguna bagi sesama.”
Dalam hal ini, kampus berperan sebagai inkubator kemanusiaan—tempat di mana ide-ide inovatif lahir dari empati dan rasa tanggung jawab sosial.
Implementasi Program Social Innopreneurship Unram

Program Social Innopreneurship Universitas Mataram dirancang sebagai gerakan terpadu lintas fakultas dan lintas disiplin. Ada tiga pilar utama yang menjadi kerangka pelaksanaan:
a. Edukasi dan Literasi Inovasi Sosial
Mahasiswa diperkenalkan dengan konsep social entrepreneurship, design thinking, dan sustainable innovation. Melalui kuliah, lokakarya, dan bootcamp, mereka belajar mengidentifikasi masalah sosial di sekitar kampus dan masyarakat, kemudian merancang solusi berbasis inovasi yang berkelanjutan.
b. Inkubasi dan Pendampingan Proyek
Kampus menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan produk atau layanan inovatif. Setiap proyek mendapatkan pendampingan dari mentor profesional, termasuk pelatihan manajemen bisnis sosial, strategi pemasaran etis, dan pengukuran dampak sosial (social impact assessment).
Contoh implementasi di Fakultas Peternakan, misalnya, adalah program “Susu untuk Desa”, di mana mahasiswa mengembangkan produk susu olahan bernutrisi tinggi, lalu sebagian hasil penjualannya disalurkan untuk program gizi anak di daerah pesisir.
c. Kemitraan dan Kolaborasi
Unram melalui PSIU menjalin kerja sama dengan lembaga pemerintah, dunia industri, dan organisasi sosial. Tujuannya untuk menciptakan ekosistem sosial-ekonomi yang inklusif. Kolaborasi ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari lapangan, mengasah empati, sekaligus memperluas jaringan profesional mereka.
Dampak Sosial dan Filosofi “Human Being”
Social innopreneurship bukan sekadar proyek ekonomi atau inovasi produk. Ia adalah gerakan kesadaran bahwa manusia hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri. Dalam bahasa Prof. Ali, “social innopreneurship adalah implementasi dari human being—kepekaan terhadap lingkungan sekitar yang berbasis pada kemanusiaan.”
Dengan menjalankan program ini, Unram menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan emosional. Mahasiswa diajak untuk keluar dari lingkaran akademik yang kering, dan turun langsung menghadapi realitas sosial: kemiskinan, ketimpangan, dan krisis lingkungan.
Mereka belajar bahwa “usaha” bukan hanya tentang mengejar profit, tetapi juga tentang memperbaiki hidup orang lain. Bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari angka penjualan, tetapi dari senyum anak-anak yang menerima manfaat dari setiap inovasi yang lahir dari kampus.
Gagasan besar ini menempatkan Universitas Mataram sebagai pionir dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, bisnis, dan kemanusiaan. Di tengah arus globalisasi yang kerap menomorduakan nilai-nilai sosial, Unram justru memilih jalur yang menyejukkan: menjadi kampus humanis dan transformatif.
Human-eco happiness dan social innopreneurship bukan hanya program kerja, melainkan arah baru peradaban akademik—bahwa pendidikan tinggi harus menumbuhkan manusia yang berpikir, berempati, dan bertindak untuk kebaikan bersama.
Jika kelak Prof. Muhamad Ali memimpin Unram, visi ini dapat menjadi fondasi moral dan intelektual bagi seluruh sivitas akademika. Universitas Mataram akan menjadi laboratorium kemanusiaan yang hidup—tempat ilmu pengetahuan berpadu dengan cinta kasih, inovasi tumbuh dari empati, dan kebahagiaan lahir dari memberi.
Program Social Innopreneurship Universitas Mataram adalah bentuk nyata dari semangat innovation for society. Ia mengajak seluruh warga kampus untuk tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi melangkah lebih jauh: mencipta, berbagi, dan memuliakan kehidupan.
Seperti kata Prof. Muhamad Ali di akhir perbincangan:
“Perguruan tinggi harus menjadi taman bagi jiwa manusia. Di sanalah ilmu pengetahuan bertumbuh bersama kemanusiaan.”
Dan mungkin, dari taman kecil di Mataram inilah, akan tumbuh benih-benih perubahan sosial yang menginspirasi dunia.
Akuair-Ampenan, 13 Nopember 2025










































































































































