MATARAMRADIO.COM – Di sebuah sore yang panas di Jember, Jawa Timur, pada 20 September 1999, seorang bayi perempuan lahir tanpa ada yang menduga bahwa ia akan menjadi salah satu ikon bola voli terbesar Indonesia.
Namanya Megawati Hangestri Pertiwi—seorang atlet yang kini tidak hanya mengukir nama di tanah air, tetapi juga di panggung internasional, dari Thailand hingga Korea Selatan.
Dengan tinggi 185 cm dan pukulan keras yang mematikan, ia dijuluki “Megatron” oleh penggemar, sebuah nama yang mencerminkan kekuatan dan ketangguhannya di lapangan.


Hingga April 2025, di usianya yang baru 25 tahun, Megawati telah menjelma menjadi simbol kebanggaan voli Indonesia. Opposite hitter andalan tim nasional ini baru saja kembali dikontrak oleh klub Korea Selatan, Daejeon CheongKwanJang Red Sparks, untuk musim 2024-2025, setelah membawa klub tersebut meraih prestasi luar biasa di musim sebelumnya.
Namun, perjalanan menuju puncak ini tidaklah instan—ia adalah cerita tentang kerja keras, keberanian, dan semangat pantang menyerah.
Awal yang Sederhana, Langkah yang Besar
Megawati pertama kali menyentuh bola voli di usia 14 tahun, di kampung halamannya di Jember. Bakatnya cepat terlihat, dan pada 2015, ia melangkah ke dunia profesional bersama Surabaya Bank Jatim di Livoli Divisi Utama.
Di tahun yang sama, ia bergabung dengan Jakarta Pertamina Energi Putri di Proliga, kompetisi voli paling bergengsi di Indonesia. “Saya masih ingat betapa groginya saya waktu itu,” kenang Megawati dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu. “Tapi saya tahu, ini adalah kesempatan untuk membuktikan diri.”
Dari situ, kariernya melonjak. Ia berpindah dari satu klub ke klub lain di Indonesia—Jakarta BNI 46, Bandung BJB Tandamata—mengasah kemampuan dan membangun reputasi sebagai pemain muda yang menjanjikan. Namun, Megawati tidak puas hanya bermain di dalam negeri.
Pada 2020, ia mengambil langkah berani: terbang ke Thailand untuk bergabung dengan Supreme Chonburi-E.Tech di Liga Voli Putri Thailand. “Saya ingin tahu seberapa jauh saya bisa melangkah,” katanya.
Langkah itu terbukti membuahkan hasil—pengalamannya di Thailand menjadi batu loncatan untuk petualangan yang lebih besar.
Menyala di Asia: Dari Vietnam ke Korea
Setelah Thailand, Megawati melanjutkan petualangannya ke Vietnam pada 2022, membela Hà Phú Thanh Hóa di Liga Voli Vietnam. Di sana, ia tidak hanya bermain, tetapi juga belajar—mengadaptasi gaya permainan yang berbeda dan menghadapi tekanan sebagai pemain asing.
Namun, puncak kariernya datang pada 2023, ketika ia terpilih dalam draft kuota pemain Asia untuk bergabung dengan Daejeon CheongKwanJang Red Sparks di V-League Korea Selatan.
Kedatangannya di Korea disambut dengan skeptisisme. “Banyak yang meragukan kemampuan saya,” ujarnya. Tapi Megawati membuktikan bahwa keraguan itu salah.
Dengan pukulan keras dan stamina yang luar biasa, ia membawa Red Sparks menembus playoff pertama dalam tujuh tahun pada musim 2023-2024, mengakhiri musim di posisi ketiga.
Penggemar Korea terpukau—mereka memberinya julukan “Megatron,” sebuah penghormatan atas kekuatan dan ketepatan serangannya. “Saya tidak pernah menyangka akan diterima seperti ini,” katanya dengan senyum khasnya.
Pulang dan Juara, Lalu Kembali ke Korea
Setelah musim gemilang di Korea, Megawati kembali ke Indonesia pada 2024 untuk membela Jakarta BIN di Proliga. Di sini, ia mencatatkan sejarah: membawa klub tersebut meraih gelar juara pertama sekaligus menjadi trofi Proliga pertama dalam kariernya. “Ini untuk keluarga saya, untuk fans, dan untuk Indonesia,” ucapnya usai pertandingan final, dengan mata berkaca-kaca.
Namun, panggilan dari Korea kembali datang. Pada musim 2024-2025, Red Sparks mengontraknya lagi, menegaskan bahwa Megawati bukan sekadar pemain biasa—ia adalah aset berharga di salah satu liga voli paling kompetitif di dunia.
Pilar Timnas yang Tak Tergantikan
Di level internasional, Megawati telah menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia sejak debutnya di Asian Games 2017. Dari SEA Games hingga ASEAN Grand Prix, ia adalah senjata utama dengan smash-smash mematikan yang sering membuat lawan kewalahan. Hingga 2025, ia tetap menjadi andalan timnas, membawa harapan untuk medali emas di ajang-ajang mendatang.
Di Balik Lapangan
Di luar lapangan, Megawati adalah sosok sederhana. Lulusan Universitas Kahuripan Kediri ini dikenal rendah hati dan dekat dengan keluarga. “Saya hanya ingin membuat orang tua saya bangga,” katanya suatu kali. Namun, di mata penggemar—baik di Indonesia, Thailand, Vietnam, maupun Korea—ia lebih dari itu. Ia adalah inspirasi, bukti bahwa mimpi besar bisa diraih dari kota kecil seperti Jember.
Ke Depan: Langit adalah Batasnya
Pada April 2025, Megawati berdiri di puncak kariernya, tetapi ia belum puas. Dengan kontrak baru di Red Sparks dan peran kunci di timnas, ia terus menatap masa depan. “Saya ingin terus belajar dan membawa nama Indonesia lebih jauh,” tegasnya.
Dari Jember ke Seoul, dari Proliga ke V-League, Megawati Hangestri Pertiwi telah menunjukkan bahwa bakat, kerja keras, dan keberanian bisa mengubah seorang gadis biasa menjadi bintang dunia. “Megatron” sedang menyala—dan dunia voli belum selesai menyaksikan keajaibannya. (editorMRC)











