Ramadhan dan Cerita Kita yang Tak Pernah Usai

Catatan Weidmust 10 Ramadhan

Ramadhan bagi anak-anak generasi kita dulu bukan sekadar bulan suci. Ia seperti pesta tahunan yang ditunggu dengan dada berdebar. Libur sekolah panjang, langit sore terasa lebih jingga, dan masjid berubah menjadi pusat semesta kecil bernama kampung.

Selepas asar, gang-gang mulai hidup. Bau kolak bercampur gorengan, bersaing dengan aroma mesiu petasan. Mercon cabe beterbangan, kembang api menyala malu-malu, dan meriam karbit menggelegar seakan ingin menantang takbir. Kita berlari tanpa takut dimarahi, seolah Ramadhan memberi dispensasi pada kenakalan kecil.

Menjelang sahur, inilah konser paling legendaris sepanjang masa: bangunin orang sekampung. Bambu jadi kentongan, tutup botol dirangkai jadi kecrekan, kaleng cat bekas disulap jadi tambur dengan kertas semen ditempel rapat dipanaskan sebentar di atas kompor supaya suaranya nyaring. Kalau sudah pas nadanya, berangkatlah kami keliling kampung. Lagu tak selalu hafal, suara tak selalu merdu, tapi semangatnya tak pernah palsu.

BACA JUGA:  BRIN Ungkap Data Hilal: Ramadan 1446 H Diprediksi Dimulai 1 Maret 2025

Masjid, surau, langgar tak pernah sepi. Dari buka puasa, tarawih, sampai subuh, lampunya seakan enggan dipadamkan. Tarawih jadi ajang eksistensi. Saf depan penuh kesungguhan, saf belakang penuh perhitungan. “Masih berapa rakaat lagi?” jadi pertanyaan paling sunyi tapi paling sering terlintas. Kalau imam baca surat panjang, terdengar helaan napas berat yang serempak tapi tetap khusyuk.

Selesai tarawih, halaman masjid berubah jadi pasar malam mini. Balon warna-warni, mainan plastik, petasan korek, tawa anak-anak berkejaran. Orang tua berbincang ringan, seolah tak ada beban hidup selain menentukan esok mau bikin takjil apa.

Lalu selepas subuh… dimulailah bab paling “heroik”: perang sarung. Sarung dilipat, diikat, lalu “ngepret” dengan bangga. Perihnya lumayan, tapi tawanya lebih keras. Kadang dari bercanda bisa jadi sengketa kecil, seperti juga mercon cabe yang awalnya lempar-lemparan, lalu berujung saling balas. Kenakalan polos yang kini terasa begitu mahal harganya.

BACA JUGA:  Pesan Keberagaman Baliho Ramadhan Rachmat Hidayat dan Selly Andayani

Dan tentu saja, ada kisah yang tak pernah masuk buku pelajaran: asmara subuh. Jamaah subuh Ramadhan lebih ramai dari biasanya. Tetangga yang jarang terlihat mendadak rajin ke masjid. Remaja tanggung berdiri sedikit lebih tegak. Dari saf belakang, kadang lahir cerita cinta yang lebih panjang dari khutbah.

Menjelang magrib, detik-detik paling mendebarkan tiba. Gelas sirup merah sudah di tangan, sendok diketuk pelan. Begitu azan berkumandang, tegukan pertama terasa seperti kemenangan besar. Sederhana, tapi membekas.

Kini kita sadar, semua itu bukan sekadar permainan. Ramadhan dulu adalah sekolah kehidupan tanpa papan tulis. Kita belajar sabar saat haus, belajar berbagi saat berbuka, belajar kebersamaan saat patrol sahur, bahkan belajar tentang batas saat perang sarung kelewat seru.

BACA JUGA:  Azimah: Jadikan Ramadhan Momentum Membangun Ritual Keluarga yang Baik

Sekarang zaman berubah. Alarm sahur berbunyi dari ponsel, bukan dari kentongan. Anak-anak lebih akrab dengan layar daripada halaman masjid. Bukan berarti salah hanya berbeda. Namun ada riuh rendah yang pelan-pelan menghilang.

Dan ketika kenangan itu datang seperti malam yang hening, barulah kita mengerti maknanya. Seperti pepatah lama yang kini terasa benar:
“Tak kenal maka tak rindu, sudah kenal malah tak bisa lupa.”

Ramadhan mungkin tetap datang setiap tahun. Tapi Ramadhan masa kecil dengan segala suara sumbang, tawa pecah, dan cahaya lampu masjid yang temaram ia tinggal dalam ingatan. Dan setiap kali kita membukanya, kenangan itu seperti pintu yang tak ingin ditutup kembali.

Kita tahu waktu tak bisa diputar. Namun selama azan masih terdengar dan hati masih bergetar ketika mengingatnya, Ramadhan itu sebenarnya belum benar-benar pergi. ***