Gubernur : Orkestrasi dan Kolaborasi, Strategi Atasi Kemiskinan

MATARAMRADIO.COM – Desa Taman Ayu di Kecamatan Gerung kini menjadi sorotan utama dalam program “Desa Berdaya” Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa yang memiliki karakteristik geografis unik ini menyimpan potensi wisata besar, namun sekaligus berhadapan dengan tantangan lingkungan dan ekonomi yang kompleks.
“Kemiskinan adalah fenomena dengan banyak wajah. Kita tidak bisa hanya menyelesaikan satu aspek, seperti sampah saja atau bencana saja, lalu berharap kemiskinan selesai. Semua elemen—Provinsi, Kabupaten, Desa, hingga swasta—harus bergerak bersama dalam satu irama,” tegas Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dalam kunjungannya pada Kamis 26 Februari 2026,
Gubernur menegaskan, penanganan kemiskinan di Desa Taman Ayu tidak bisa dilakukan secara parsial tapi perlu strategi “Orkestrasi dan Kolaborasi” untuk menyatukan berbagai program yang selama ini berjalan sendiri-sendiri

BACA JUGA:  Merarik Kodek dan Tingginya Kasus Stunting di NTB

Gubernur menjelaskan langkah awal yang dilakukan adalah validasi data kemiskinan ekstrem. Dari estimasi awal 7.000 jiwa, hasil verifikasi tim pendamping menunjukkan angka riil berada di angka 4.000 jiwa.
​Untuk mengintervensi hal ini, Pemprov NTB menyiapkan dua skema yakni :

  • ​Level Desa: Kucuran dana sekitar Rp 500 juta untuk penguatan infrastruktur dan potensi desa.
  • ​Level Keluarga: Intervensi langsung pada kebutuhan rumah tangga sasaran.

​”Fokus kita adalah Ketahanan Pangan dan Pariwisata. Saya minta pendamping desa tidak mulai dari nol, tapi kumpulkan puzzle yang sudah ada dari PKH atau program desa sebelumnya,” tambahnya.

BACA JUGA:  KPK Minta Aset Pemprop di Gili Trawangan Ditertibkan

​Sementara itu, Kepala Desa Taman Ayu, Muhammad Tajudin, memaparkan kondisi desanya yang diapit oleh dua sungai besar, Sungai Babak dan Sungai Dodokan, serta berbatasan langsung dengan laut di sisi barat dan pegunungan di sisi timur. Selain keindahan alam, hampir setiap dusun di Taman Ayu memiliki kekayaan seni, mulai dari Wayang, Gamelan, Gendang Beleq, hingga Tenun.

​Namun, di balik potensi tersebut, Tajudin mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait abrasi pantai yang telah melenyapkan sekitar 70 hektare lahan pantai, termasuk 10 hingga 20 hektare tanah milik warga.

​”Abrasi ini sangat parah, hingga membentuk pola seperti sabit jika dilihat dari peta Lombok. Kami sudah berkomunikasi dengan Provinsi, namun biaya pembangunan breakwater memang sangat besar. Bahkan tanaman cemara dan bangunan groin yang ada sebelumnya pun hanyut diterjang laut,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Ayah Jangan Abaikan Anak

​Selain abrasi, masalah polusi udara dari aktivitas truk material dan debu batu bara di sekitar kawasan PLTU serta bau sampah juga menjadi tantangan yang mengurangi kenyamanan desa yang sejatinya sangat cantik ini.

​Sejalan dengan visi Gubernur, Kades Tajudin menyatakan pihaknya juga tengah fokus mengurai kemiskinan pada kelompok paling rentan.
Saat ini, Desa Taman Ayu telah memiliki struktur formal berupa Forum Disabilitas dan Forum Sekolah Setara untuk perempuan guna memastikan kelompok ini tetap berdaya dan tidak tertinggal dalam proses pembangunan.(san/diskominfotik/MRC)