MATARAMRADIO.COM – Tokoh senior dan pemerhati sosial ekonomi politik NTB, Ali BD, angkat bicara terkait rendahnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bahkan hampir menyamai angka pertumbuhan ekonomi Papua Pegunungan—sebuah provinsi baru di tanah Papua.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Ali BD menyampaikan pandangan kritisnya mengenai cara pengukuran pertumbuhan ekonomi di Indonesia, termasuk NTB. Ia menilai bahwa metode perhitungan yang masih berpegang pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya menggambarkan pertumbuhan secara “di atas kertas”, tanpa mencerminkan kondisi riil masyarakat di lapangan.
“Pertumbuhan seperti ini hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya,” tegasnya. Ia juga menyentil soal kontribusi ekspor tambang PT Amman Mineral yang masuk dalam indikator pertumbuhan ekonomi NTB. Meski tak mempermasalahkan secara teori, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu terlalu khawatir dengan angka pertumbuhan semata.


Sebaliknya, Ali BD mendorong agar Pemerintah Provinsi NTB lebih fokus pada pengembangan sektor lain yang berkelanjutan, seperti sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan industri. Ia mengutip pernyataan mantan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah: “Bangunlah industri.”
Ali BD menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM dan pengembangan industri lokal akan memberikan efek jangka panjang yang lebih nyata terhadap pemerataan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.
Pernyataan ini sejalan dengan semakin kuatnya seruan untuk diversifikasi ekonomi daerah, agar NTB tidak terus bergantung pada sektor pertambangan yang bersifat ekstraktif dan tidak inklusif.
Kini, tantangan bagi Pemprov NTB adalah mewujudkan visi pembangunan ekonomi yang lebih manusiawi, inklusif, dan berbasis potensi lokal yang nyata.
Ali BD Soroti Pertumbuhan Ekonomi NTB: Jangan Hanya Andalkan Tambang, Bangun Industri dan SDM
Tokoh senior dan pemerhati sosial ekonomi politik NTB, Ali BD, angkat bicara terkait rendahnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bahkan hampir menyamai angka pertumbuhan ekonomi Papua Pegunungan—sebuah provinsi baru di tanah Papua.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Ali BD menyampaikan pandangan kritisnya mengenai cara pengukuran pertumbuhan ekonomi di Indonesia, termasuk NTB. Ia menilai bahwa metode perhitungan yang masih berpegang pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya menggambarkan pertumbuhan secara “di atas kertas”, tanpa mencerminkan kondisi riil masyarakat di lapangan.
“Pertumbuhan seperti ini hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya,” tegasnya. Ia juga menyentil soal kontribusi ekspor tambang PT Amman Mineral yang masuk dalam indikator pertumbuhan ekonomi NTB. Meski tak mempermasalahkan secara teori, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu terlalu khawatir dengan angka pertumbuhan semata.
Sebaliknya, Ali BD mendorong agar Pemerintah Provinsi NTB lebih fokus pada pengembangan sektor lain yang berkelanjutan, seperti sumber daya manusia (SDM), teknologi, dan industri. Ia mengutip pernyataan mantan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah: “Bangunlah industri.”
Ali BD menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM dan pengembangan industri lokal akan memberikan efek jangka panjang yang lebih nyata terhadap pemerataan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.
Pernyataan ini sejalan dengan semakin kuatnya seruan untuk diversifikasi ekonomi daerah, agar NTB tidak terus bergantung pada sektor pertambangan yang bersifat ekstraktif dan tidak inklusif.
Kini, tantangan bagi Pemprov NTB adalah mewujudkan visi pembangunan ekonomi yang lebih manusiawi, inklusif, dan berbasis potensi lokal yang nyata. (editorMRC)










































































































































