Al Ampenani yang Mendunia

Inilah kawasan paling dinamis dalam peradaban Lombok setidaknya dalam 500 tahun terakhir.
Pada era tahun1500an, Ampenan merupakan pelabuhan utama Kerajaan Sasak yang kala itu dipimpin Raja Sri Aji Krahengan yang legendaris di Bali.
Raja Sasak ini pernah mengekspansi ke Bali-termuat dalam 2 Babad di Bali ).

Menurut Dr.Sugianto Sastrodiwiryo dan Sir Alfred Wallace Kerajaan Sasak berpusat di Cakranegara sekarang.

Dalam laporan Cornelis de Houtman ketika ekspedisi ke Nusantara tahun 1597, besar kemungkinan yang dia sempat kunjungi berdasarkan gambar ilustrasi yang dia sebut Lumbock itu adalah Ampenan bila melihat kontur alamnya.

Sebagai pelabuhan utama Lombok sejak era kuno, era abad 18-19 hingga era abad 20, Ampenan menarik berbagai bangsa di dunia untuk datang dan menetap mulai Arab,Persia ,Eropa,bangsa-bangsa Nusantara seperti Melayu Bugis,Jawa Bali,Banjar dan lain-lainl menjadikan Ampenan sebagai daerah yang. multkultur.

Ampenan di era Kolonial Belanda menjadi berstatus kedistrikan yang wilayahnya hingga Narmada di timur dan kokok babak di selatan dan menjadi Ibukota Afdelling Lombok dan Ibukota Under Afdelling West Lombok/Lombok Bara

Di era Republik Indonesia, Kedistrikan Ampenan dibagi 2 menjadi Kedistrikan Ampenan berkantor di Dasan Agung dan Ampenan Timur di Narnada.

Ampenan kemudian menjadi ibukota Daerah Lombok hingga 1958. Kemudian, 1958 Kedistrikan Ampenan dibagi 3 menjadi Kecamatan Ampenan,Kec Mataram dan Kec Labuapi.

Pada 1978, Kecamatan Ampenan, Kecamatan Mataram dan Kecamatan Cakranegara dipisahkan dari Kabupaten Lombok Barat dibentuk menjadi Kotif Mataram dan sejak tahun 1983 menjadi Kota Madya Mataram hingga sekarang.

Kalau sebelumnya nama Ampenan begitu mendunia sebagaipelabuhan ekspor juga melekat sebagai nama kawasan yang populer.
Tokoh-tokoh dari Nusa Tenggara kalau di timur tengah dikenal sebagai Al-Ampenani. Namun sejak tahun 977 Ampenan mulai meredup seiring dipindahkannyq pelabuhan ke Lembar Lombok Barat.
Nama Ampenan masih bertahan sebagai tujuan penerbangan ke Bandara Selaparang -Lombok dengan kode AMI. Namun dengan pindah bandara ke Bandara Internasional di Lombok Tengah maka AMI juga hilang berganti menjadi LOP (Lombok Praya).

Lalu apakah Ampenan yang melegenda ini akan dibiarkan tenggelam ditelan perkembangan zaman.

Curahan pemikiran dan pendapat tentang Ampenan di bawah ini dari salah satu anak muda Ampenan Kake Kholis Sumardi Rosonggin yg seorang Etnomusikolog muda ini mungkin bisa mewakili kita.:

I Ampenan..

Ampenan adalah labuan masyarakat Sasak sejak era kuno yang merupakan koneksi primer Selat Lombok .

Jalur perhubungan laut dunia atau “sea lines of communication” menurut pemerhati geostrategi, Fika M Komara adalah meliputi Selat Boshporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia serta menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selain itu adalah Selat Hormuz yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab, terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia.
Dan yang berpengaruh di Wilayah Pasifik adalah
Selat Malaka, Selat Sunda, SELAT LOMBOK, dan Selat Makassar. (Indonesia mengkategorikan Selat Lombok sebagai ALKI 3)

Jalur transportasi laut tersebut merupakan bentangan garis energi minyak dan gas bumi yang tidak boleh terputus karena hal tersebut sangat berkaitan dengan industri negara-negara maju.

Dalam bidang geografi transportasi, wilayah perairan tersebut dikenal sebagai “choke points” yakni lokasi yang membatasi kapasitas sirkulasi dan tidak dapat dengan mudah dilewati, karena sangat mudah untuk diblokir.

Saat era perdagangan dunia bergeser ke wilayah Asia Pasifik, yang sebelumnya di Eropa dan Amerika, Selat Lombok muncul sebagai salah satu pusat strategis maritim dunia di abad 21.

Rute pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia. Selat Lombok selain melewati Samudera Hindia, juga terhubung pada Samudera Pasifik dan Laut Filipina di utara dan Australia di selatan.

Karena itu, kembalikan Ampenan sebagai gerbang dunia. (*)