Papuk Sri: Wanita Misterius Dalam Congah Praya

--- Advertisement ---coinpayu

Disebutkan dalam Babad Praya sewaktu tujuh pendekar Praya terkurung di masjid, konon terjadi keajaiban. Pertolongan gaib Tuhan turun dengan datangnya seorang wanita tua dekil sebagai juru masak mereka. Pekerjaannya yang serba asal-asalan mampu menyajikan makanan dan kopi yang sangat berkhasiat memulihkan kekuatan ketujuh pahlawan tersebut. Begitu pula pada waktu masjid akan dibakar tampil dua orang ajaib bersama anak kecil yang menjaga masjid dari serbuan musuh.

Oleh: Amaq Bambang Miko

Adalah Neeb bersama teman temannya ketika mengunjungi Praya dan menjadi tamu Mamik Sapian telah bertemu dengan Wanita ajaib itu. Mami Sapian lah yang mengulurkan tangan membantu kami untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat Praya, karena mereka hampir semuanya sangat sedikit sekali mengerti dan berbicara menggunakan bahasa Melayu, sedangkan di rombongan kami tidak ada orang Sasak, kata Neeb.

Untuk keperluan bahan makanan sehari hari Mamik Sapian menunjukkan kami seorang perempuan tua master koki, Dia pergi ke pasar dan menunjukkan kepada kami berbagai macam barang dengan berbagai variasi harga. Dia adalah seorang perempuan tua yang telah mengikuti seluruh perang dan selalu menjaga dan memasak untuk kami, Kata mamik Sapian. Dia tahu bagaimana menceritakan kisah-kisah hebat tentang perang. Dilihat dari rambut di kepalanya setidaknya dia sudah agak tua, apalagi dia memiliki wajah yang sangat ramah dan bersahabat, menurut Neeb, orang ini di masa mudanya pasti sangat cantik.

BACA JUGA:  Perempuan Sasak Pencipta Perang

Lanjut kata Neeb, perempuan tua itu memakai nama Papuk Sri, di usia tuanya dia masih kelihatan sehat, yang sangat cocok untuknya; dia tampaknya menjalankan otoritas tertentu atas yang lain, dengan kata lain dia adalah sosok yang luar biasa. Jika dia berada di keramaian atau jika seseorang melewatinya, orang pasti akan selalu mengucapkan “‘Tabeeek Tuan” dengan gaya khas yang ramah”.

Dia adalah seorang juru masak yang baik, terbukti berulang-ulang, ketika sesuatu dikirim kepada kami oleh Mamik Sapian, dan itu telah disiapkan dengan baik olehnya. Setiap hari kami menerima dari Sayur, beras yg indah, yang ditunjukkan untuk petugas sendiri, tiga kali sehari dan itu selama sepuluh bulan; dia tidak akan pernah mendapat kompensasi untuk itu, dan meskipun dia sering disuruh dia terus mengirim kami setiap hari, dan nasinya putih indah dan dari biji-bijian yang besar.

BACA JUGA:  Syarif Berembeng : Aktor Intelektual Congah Praya

Untuk membalas kebaikan ini, diputuskan untuk memberinya souvenir di papan tulis, yang terdiri dari layanan makan malam yang dihias, yang menurut inspektur adalah hadiah yang paling cocok untuknya, dan tentu yang paling dia inginkan untuk memberikan hadiah itu adalah saya, kata Neeb.

Oleh karena itu, rencananya semua orang yang pernah berada di Praja, akan berpartisipasi dalam hal ini, surat-surat diedarkan, juga kepada mereka yang telah meninggalkan pulau ini.

Di seberang pasar ada mesigit (masjid), bangunan besar yang kemegahannya hanya bisa dibandingkan dengan gereja. Di tempat inilah ajaran agama dipelajari dan diamalkan dibawah bimbingan seorang penghulu. Padi pagi hari (subuh) suara doa (azan) terdengar yang terlebih dahulu diawali dengan suara bedug yang dipukul berkali kali.

Pada hari Jumat banyak orang muslim terlihat memasuki mesigit ini, termasuk guru Bangkol, yang biasa dipanggil Guru Saat ia menjabat sebagai guru agama (penghulu) tunggal, sebuah tongkat besar di tangannya, yang dimaksudkan untuk menopangnya, terlihat sedang menghadiri ritual ibadah. Sebelum mesigit ada bak mandi yang cukup besar; dalam hal ini orang itu menyucikan dirinya (berwuduk) sebelum memasuki tempat suci.

BACA JUGA:  Syarif Berembeng : Aktor Intelektual Congah Praya

Menurut pengamatan Neeb, Masjid tidak hanya untuk tujuan keagamaan, juga untuk hal lain mesigit ini digunakan. Misalnya, jika satu atau lebih saksi yang ada di persidangan harus disumpah, ini juga terjadi di Mesigit; prosesnya terdiri dari membaca satu surah tertentu dari Al-Qur’an di atas semangkuk air, yang memiliki arti tertentu. Kadang juga ketika ada pelancong (musafir) yang tidak memiliki tempat untuk bermalam, jadi mereka tinggal di mesigit kata Neeb. Saya melihat ini, ketika barang-barang harus dikembalikan dari benteng ke Ampenan, dan sekitar dua ratus kuli telah disewa untuk tujuan ini, raenschen ini juga tinggal di mêsigit. Mesigit dan Kampung Prapen Praya adalah saksi perjuangan siang dan malam yang masih bertahan sampai saat ini, ujar Neeb.

Foto : Lombok Historical Society