Hati-hati! Banyak Produk Pangan Kadaluarsa Beredar di NTB

MATARAMRADIO.COM, Mataram – Hasil kegiatan rutin intensifikasi yang dilaksanakan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram bersama lintas sektor terkait di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa masih banyak beredar bahan pangan yang melampaui batas waktu penggunaan alias kadaluarsa. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung sebanyak 84,6% dari total temuan di lapangan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB POM) Mataram Dra IGA Adhi Arypatni,APt dalam kegiatan jumpa pers dengan media usai kegiatan intensifikasi yang dipusatkan di MGM Plaza Supermarket, Cakranegara, Senin (10/5).

Dijelaskannya, pihak BB POM Mataram bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota, Dinas Perdagangan Provinsi, Kabupaten/Kota di NTB) telah melaksanakan kegiatan intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri 1442. Targetnya adalah pangan olahan tanpa izin edar, kadaluarsa dan rusak.”Kita menyasar distributor, swalayan, supermarket, ritail modern, pasar tradisional, pembuat dan penjual parsel, serta penjual takjil,”sebutnya.

Tim BB POM Mataram ketika melakukan sidak ke sejumlah titik, pusat penjualan makanan berbuka puasa selama bulan Ramadhan di Kota Mataram / foto: BB POM Mataram

Berdasarkan hasil temuan di lapangan dari 117 sarana yang diintensifkan oleh Balai POM Mataram, 110 atau 94 ℅ sarana dinyatakan memenuhi ketentuan dan 7 sarana atau 6% nya tidak memenuhi ketentuan. Rinciannya yakni total temuan produk pangan tidak memenuhi ketentuan sebanyak 33 item (364 kemasan), terbanyak adalah pangan kadaluarsa yakni terdiri dari 17 item atau sebanyak 308 kemasan atau 84,6 persen dari total temuan. “Disusul pangan tanpa ijin edar sebanyak 28 kemasan atau 7,7 persen, dan pangan dengan kemasan rusak/penyok sebanyak 28 kemasan atau 7,7 persen yang terdiri dari 14 item,”papar Adhi Aryapatni yang baru saja menjabat sebagai Kepala BP POM Mataram menggantikan  pejabat sebelumnya.

Ia juga menyebutkan bahwa seluruh temuan tersebut bukanlah pangan atau makanan yang ada dalam parcel melainkan di pajangan rak. Barang-barang temuan itu disisihkan untuk diretur, sedangkan barang impor TIE dimusnahkan pemilik disaksikan petugas, dan kepada pelaku usaha diberikan pembinaan.

Beberapa kabupatan yang banyak ditemukan pangan yakni Lombok Utara, KSB, dan Kabupaten Sumbawa. Menyusul pangan tanpa izin edar banyak ditemukan di Kota Mataram dan KSB. “Untuk pangan kemasan rusak ditemukan di Kabupaten Sumbawa dan Lombok Barat,”bebernya seraya menambahkan kegiatan Intensifikasi pangan dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat atau konsumen.

Khusus untuk pengawasan pangan berbuka puasa/ takji, BPOM Mataram juga telah memeriksa 127 pedagang dan memeriksa 319 sampel takjil. Hasilnya, 96,2 % dinyatakan memenuhi syarat dan 12 sampel atau 3,8 %  tidak memenuhi syarat yang meliputi 10 sampel kerupuk terigu dan 2 sampel mie kuning yang terbukti mengandung boraks. “ Kami mengimbau Pelaku usaha khususnya distributor/retail pangan agar memperhatikan keamanan produk yang dijual dan mematuhi peraturan yang berlaku sehingga masyarakat mendapatkan produk yang aman dan bermutu. Demikian juga masyarakat sebagai konsumen harus teliti membeli produk yang aman,”imbuh Kepala BP POM Mataram dan mengingatkan pentingnya cek KLIK yakni Kemasan, Label, Izin Edar dan Kadaluarsa. (EditorMRC)