Legend of The Gang Bawi

Keluar dari jembatan Sungai Jangkok Ampenan, dari arah Mataram, yang pertama ditemui adalah Taman Jangkar. Tempat ini sangat ramai ketika musim durian tiba. Pedagang-pedagang duren mangkal di situ.

Dulu, sampai dengan pertengahan 1980an, di lokasi itu masih beroperasi terminal kendaraan-kendaraan umum berbagai jurusan. Di situ pula posisi nol kilometer Ampenan, dan titik pertemuan Jalan Niaga dengan Jalan Yos Sudarso. Dua jalan ini mengapit sebuah kompleks pertokoan. Masing-masing toko saling membelakangi. Semakin ke barat, areal kompleks ini semakin lebar.

Oleh: Buyung Sutan Muhlis

Teruslah menyusuri Jalan Niaga, di jalur kiri. Berhadapan dengan gerbang masuk kompleks pasar Ampenan, ada sebuah jalan tanggung yang membelah blok pertokoan itu. Panjangnya juga tanggung. Tidak sampai 100 meter. Entah mengapa, di peta Google, meski di-zoom hingga batas maksimal, jalan ini tak nampak dan namanya tak tertera. Barangkali lantaran blok ini sangat padat.

Jelas-jelas di pintu masuk dari dua arah tertulis Jalan Ester. Tetapi, sebagian besar warga Ampenan masih menyebutnya Gang Bawi (babi, bahasa Sasak)!

Tangkapan layar Google Map

Jika sembarang warga ditanya, penjelasannya nyaris sama, “Dulu, ada orang Tionghoa menjual daging babi di gang itu.”

Jawaban singkat, dan akan diterima begitu saja bagi yang sekadar ingin tahu. Tapi, bagi mereka yang suka penasaran, tentu tak akan puas dengan jawaban “dulu”. Makna “dulu” itu bisa setahun, sepuluh tahun, atau seabad yang lalu. Tak jelas. Dan apakah iya, hanya karena seorang pedagang daging hewan bertaring yang pernah ada, nama Gang Bawi melegenda, seolah tak terhapus jaman?

Penjelasan lengkap dan terperinci tentu dibutuhkan untuk menjawabnya.

Sebagai kota pelabuhan sekaligus kota perdagangan di Lombok, Ampenan, di masanya, pusat bermacam bidang usaha. Ampenan adalah tujuan pada pedagang mendapatkan aneka barang kebutuhan. Tidak heran jika terminal kendaraan berada di kota tua ini.

Pada 11 Nopember 1926, di Ampenan, Pemerintah Kolonial Belanda meresmikan beroperasinya rumah potong babi. Letaknya persis di blok itu, yang tak jauh dari kompleks pasar. Pemerintah kolonial merekomendasikan berdirinya rumah potong tersebut, setelah menerima laporan para dokter hewan. Bahwa di kawasan Lombok Barat (termasuk Mataram), babi-babi yang diternakkan tidak terdeteksi cacing kandung kemih. Pemeriksaan juga selalu dilakukan setiap hewan-hewan itu dipotong.

Sekarang sudah jelas, mengapa Gang Bawi itu the legend, wong rumah potongnya ada di situ, selain para pedagang daging babi. Pertanyaan yang satu sudah terjawab. Pertanyaan selanjutnya, mengapa di Gang Bawi yang bernama resmi Jalan Ester itu, setiap orang melintas selalu dipanggil Mas? Sampai-sampai banyak wanita tersinggung disapa demikian. “Apa saya ini nampak seperti laki-laki, sehingga saya dipanggil Mas?” gerutu seorang diantaranya.

Sejak tahun 1990an, di ke dua gerbang jalan itu, sejak pagi hingga sore, selalu ada beberapa wanita yang berjaga-jaga. Mereka selalu memastikan siapa pun yang memasuki Gang Bawi pasti membawa emas. Sebenarnya mereka bertanya, “Jual emas?” Tapi yang terdengar hanya Mas.

Wanita-wanita itu mitra seorang pedagang emas. Tokonya tak jauh dari kawasan Gang Bawi. Setiap ada barang perhiasan emas yang terbeli, mereka membawanya ke toko itu. Mereka mendapatkan keuntungan dari selisih harga yang ditetapkan.

“Tapi sejak musim corona yang jual emas sepi. Dari tadi hanya dapat Rp 10 ribu. Orang-orang lebih suka ke pegadaian,” kata Anah, salah seorang pembeli emas.

Namun sesepi-sepinya, selalu ada setiap hari orang bertransaksi emas di Jalan Ester. Semestinya bersinar lantaran kilauan logam mulia. Tapi tak jua mengubah nama jalan itu. Orang-orang tetap menyebutnya Gang Bawi.(Buyung Sutan Muhlis